|
| |
|
|
Asvi Warman Adam
Film sebagai Agen Sejarah
HUBUNGAN antara film dan
sejarah masyarakat dapat dilihat dari berbagai poros. Pertama, film sebagai
sumber sejarah seperti terlihat dalam beberapa film yang dibuat Fritz Lang,
Victorio de Sica dan Renoir. Untuk Indonesia hal ini masih jauh. Meski
melibatkan sejarawan Nugroho Notosusanto almarhum, film Pengkhianatan
G30S/PKI masih mengandung kelemahan historis. Misalnya pada peta Indonesia
yang ada di kantor Kostrad ketika Pak Harto memimpin operasi pemulihan keamanan,
daerah Timor Timur sudah masuk wilayah Indonesia. Padahal tahun 1965/1966 daerah
itu belum berintegrasi ke pangkuan Ibu Pertiwi. Jadi peta yang ada di sana
bersifat anakronis. Hal ini justru disampaikan kepada saya oleh pakar Perancis
yang menonton film itu di KBRI Paris belasan tahun silam.
Kedua, film - layar lebar atau sinetron - juga berfungsi sebagai agen
sejarah. Aksi sosial-politiknya lebih intensif bila instansi atau institusi yang
mengawasi produksi dan distribusinya ingin film itu menjadi pembawa ideologi
pihak yang berkuasa. Dalam konteks ini film propaganda merupakan contoh yang
bervariasi. Hal ini ditemui di Tanah Air dalam pemutaran film di seluruh saluran
televisi pada tanggal tertentu setiap tahun selama tiga dekade ini.
Kasus ekstrem ada di Jerman sebelum Perang Dunia II. Nazi amat konsisten
dalam konsep maupun implementasinya: mengontrol skenario, pemilihan pemain,
musik, pembuatan film dan distribusinya dengan menyediakan 70.000 buah proyektor
16 mm pada sekolah dan universitas di negeri itu sejak tahun 1936. Di Rusia,
kaum Bolshevik (terutama Lounacharski dan Trotski) beranggapan, film akan
menjadi seni massa dan seni masa depan yang mampu menyumbang pada kejayaan
kesenian Soviet. Meskipun demikian, mereka tidak mengontrol semua tahap produksi
film kecuali skenarionya. Ini juga pernah terjadi di sini pada suatu masa. Hal
itu lalu berubah pada masa Stalin.
Pemanfaatan film dengan maksud propaganda tidak hanya di Jerman pada zaman
Nazi atau di negara-negara sosialis, tetapi juga di negara Barat. Pada masa
Perang Dunia II tahun 1941-1945, Presiden AS, Roosevelt, memulai pembuatan seri
film yang bertujuan memberikan justifikasi keterlibatan AS dalam perang serta
membenarkan aliansinya dengan Uni Soviet. Terlepas dari campur tangan
pemerintah, sebagian kalangan perfilman AS sejak lama dengan sadar membuat film
yang bertujuan menyanjung kehebatan sistem sosial dan politik Amerika. Film-film
tentang Perang Vietnam, menampakkan pola dan tahapan yang sejalan dengan tujuan
itu. Dari semula untuk menghibur diri atas kekalahan mereka sampai pada
penciptaan tokoh Amerika seperti Rambo yang justru menjadi pahlawan bukan
pecundang dari Perang Vietnam.
Pada tingkat nasional, contohnya tentu banyak dijumpai pada masa Orde Lama.
Pada masa Orde Baru, hal ini terlihat dalam seri film dokumenter berdurasi 10
menit tentang sukses pembangunan nasional pada berbagai bidang yang diputar pada
semua bioskop 21 sebelum pertunjukan utama dimulai. Yang jelas film jenis ini
sudah tidak diputar lagi sekarang.
Sebagai agen sejarah, film tidak saja melakukan intervensinya dalam bentuk
film cerita atau dokumenter, tetapi film iklan dan film perusahaan yang efektif
melakukan fungsi ini. Dewasa ini televisi telah mengambil alih sebagian fungsi
itu, mengurangi beban perfilman. Atau bisa juga dikatakan, televisi yang
menyebarkan film-film itu dengan memutarnya di layar kaca. Fungsi sinema dan
televisi dapat mengalami diversifikasi, di bekas Uni Soviet misalnya seperti
dikatakan K. Fergelson, televisi menangani urusan agitprop (agitasi propaganda),
sedangkan film beruntung dapat meloloskan diri dari kendala ideologi resmi.
Dalam kaitan ini, masyarakat tentu dapat menilai sendiri peran TVRI di Tanah
Air.
Meski menghadapi berbagai kendala, keberhasilan Tarkovski dan Pasdermadjian
menjadi contoh, bagaimana sineas tertentu mampu mengekspresikan vision du
monde mereka, mengolah kehidupan masyarakat sambil mengajak masyarakat
memikirkan dirinya. Gerakan ini mendapat tantangan dari politikus, pendeta dan
partai. Meski demikian, gebrakan sineas ini telah mempunyai dampak yang tidak
bisa dipungkiri seperti pengaruh film-film Nouvelle Vague terhadap
gerakan pemuda/ mahasiswa tahun 1968 di Perancis.
Pada waktu pergantian tahun 1997/1998 diputar film tentang power people
di Filipina pada televisi swasta Indosiar. Sayang film itu diputar tengah malam
sehingga hanya dilihat sedikit pemirsa. Pada waktu bersamaan juga ditonton
kalangan terbatas, aktivis dan intelektual, pada sebuah teater di Jakarta, film
tentang pembantaian mahasiswa di Tienanmen. Belum dapat diukur pengaruh film itu
pada gerakan mahasiswa belakangan ini.
PARA sejarawan juga perlu menyadari bentuk-bentuk spesifik film. Berbeda dari
roman atau pidato-pidato politik, ada banyak hal lain yang menyangkut teknis
perfilman yang juga menentukan apakah suatu film mempunyai pengaruh di
masyarakat. Ada film yang memperoleh sukses permanen seperti film-film Charlie
Chaplin, sedangkan banyak film lain yang cepat dilupakan orang. Untuk dapat
berhasil di AS, sejak dari dulu, orang mesti membuat film yang tidak menyinggung
hal-hal peka terhadap golongan Yahudi, Hitam, Irlandia dan lain-lain, pendek
kata, yang dapat memuaskan semua pihak. Inilah kunci keberhasilan film Amerika
dalam memikat publik dunia kemudian seperti terlihat dalam sukses film Titanic
sebagai kasus paling mutakhir.
Salah satu aspek yang kurang dianalisis dalam hubungan antara film dan
sejarah adalah sejarah produksi perfilman itu sendiri. Sudah diketahui, antara
bintang film, produser dan sutradara serta penulis skenario ada perbantahan,
siapa yang paling menentukan kesuksesan sebuah film. Di Prancis misalnya peran
bintang diakui sangat penting, tetapi sejak muncul majalah Cahiers du Cinema,
peran sutradara semakin diakui sederajat dengan penulis dan filsuf.
Sejajar dengan fungsi kedua itu (film sebagai sumber sejarah), kalangan
non-perfilman seperti sejarawan dapat memanfaatkan film untuk melihat le
non-dit des societes (apa yang tidak dikatakan oleh masyarakat). Apa yang
tidak muncul dalam pidato atau percakapan resmi tetapi terjadi di masyarakat
bisa terekam di dalam film. Selain itu film dapat juga dianalisis sebagai
diskursus atau bentuk baru dari ekspresi pemikiran. Dari uraian ini terlihat,
media film memiliki multi aspek yang kurang disoroti selama ini.*
***Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris.
Sumber: Kompas, Minggu, 24 Mei 1998
Kembali
|