![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
Asvi Warman Adam "Serangan Oemoem" Harus Cerminkan Sinergi Sipil Militer PERINGATAN peristiwa "Serangan Oemoem" harus mencerminkan sinergi sipil militer dalam bentuk perjuangan menghadapi berbagai tantangan dewasa ini, ungkap pakar sejarah Asvi Warman Adam. Maka dari itu, penempatan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya secara proporsional adalah suatu keharusan. Bertolak dari catatan sejarah ke belakang, kepada KCM saat dihubungi (28/2) Asvi mengatakan dirinya sepakat bila film Janur Kuning yang ditayangkan TVRI sejak 1980 sampai dengan 1997 tidak dimanfaatkan lagi sebagai paparan yang menggambarkan kejadian heroik di masa itu. "Film itu memang dibuat khusus untuk mengagungkan kepahlawanan Soeharto," tuturnya. Selain itu, Asvi mengatakan, film garapan sutradara Alam Rengga Surawijaya pada 1979 itu juga memperlihatkan supremasi militer terhadap sipil. Pasalnya, di situ digambarkan kemenangan militer melumpuhkan pasukan Belanda di Yogyakarta waktu itu. Padahal, lanjut Asvi lagi, di dalam film itu ada satu bagian yang tidak ditayangkan tapi menjadi bukti penting dari kebenaran sejarah. Kisahnya, pada 14 Februari 1949, Letnan Kolonel Soeharto dipanggil menghadap Sri Sultan Hamengku Buwono IX ke kraton. Di situ Sri Sultan menggagaskan idenya untuk menggelar suatu serangan terhadap Belanda sebagai upaya membuka mata dunia menyangkut eksistensi Republik Indonesia. "Waktu itu, bertepatan dengan rencana akan diselenggarakannya sidang Dewan Keamanan PBB yang membahas sengketa Indonesia Belanda dan Sri Sultan memahami akan hal itu," katanya. Maka, bertolak dari situlah "Serangan Oemoem" 1 Maret 1949 dilaksanakan dengan sosok yang bergerak di lapangan adalah Letkol Soeharto. "Di sini bisa terlihat supremasi sipil yang merancang secara brilian merancang dan menggabungkan diplomasi dengan serangan gerilyawan bersenjata. Ini yang perlu ditekankan sebagai suatu keberhasilan," tegasnya. Lalu, dengan mengambil benang merah peristiwa itu sebagai salah satu pedoman di masa mendatang, Asvi memberi pesan agar penempatan tokoh-tokoh yang berperan dalam peristiwa sejarah itu dilakukan secara proporsional. Misalnya, bahkan mulai saat ini harus tegas dikatakan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang menjadi penggagas peristiwa itu. "Mengapa tidak diterima kalau pelaku sejarah peristiwa itu memang Sri Sultan," tandasnya seraya memesankan, segala upaya untuk meninggikan hanya salah satu peran antara sipil dan militer dalam konteks tersebut haruslah ditinggalkan.*(prim) Asvi Warman Adam, peneliti LIPI, doktor sejarah dari Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales, Paris. Sumber: Sarapan Pagi Kompas Cyber Media, Jumat, 01 Maret 2002, 07:07 WIB | |||||||
| Copyright © 2000 |