Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Free Web site hosting - Freeservers.com
  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
HISTORIOGRAFI

Bila Rakyat (Petani) Lapar




Judul: Gerakan Rakyat Kelaparan: Gagalnya Politik Radikalisasi Petani
Penulis: Fadjar Pratikto
Penerbit: Penerbit Media Pressindo, Yogyakarta, Januari 2000
Tebal: 224 halaman


DI sebuah kabupaten bernama Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berlangsung Gerayak (Gerakan Rakyat Kelaparan). Seperti yang diabadikan dalam Kedaulatan Rakyat (1/2/1964), mereka adalah orang-orang yang secara gerombolan melakukan operasi ke rumah-rumah orang yang berada, lalu --dengan tanpa kekerasan-- meminta bahan makanan apa saja yang ada dan dibawa semua.

Atau, menunjuk pada istilah yang dipakai oleh aparat keamanan Gunung Kidul, untuk menyebut sebuah aksi yang dilakukan oleh rakyat yang kelaparan, serta dipelopori oleh tokoh-tokoh masyarakat dan guru, guna mencari dan mendapatkan bahan makanan dari orang kaya, baik di daerahnya sendiri maupun di luar daerah (Sartono Kartodirdjo: 1992).

Gerayak sebagai fenomena politik lokal, adalah salah satu varian dari apa yang biasa disebut radikalisme petani; sebuah ikon tersendiri dalam penulisan sejarah pedesaan. Yaitu, gerakan petani yang bersifat radikal, sebagai respon terhadap sistem yang berlaku sekaligus sebagai reaksi atas jaring subsistensi yang menjerat leher para petani.

Keterlibatan kaum komunis dalam gerakan-gerakan petani yang bersifat radikal di Indonesia sejak 1920-an, menempatkan kaum petani sebagai basis massa yang diharapkan memberi kontribusi dalam bentuk pemberian suara dalam pemilihan umum maupun dukungan-dukungan fungsional kepada setiap kebijakan partai. Sementara, bencana kelaparan menjadi momentum yang tepat bagi PKI dan BTI, untuk memberi dukungan petani guna mendesak kaum kaya pedesaan berpartisipasi membagikan sedikit kekayaannya kepada para petani yang lapar.

Meski, proses radikalisasi petani menjadi taktik sepihak; dengan tujuan implementasi land reform dan perjuangan kelas; dan menjadikan tuan tanah sebagai sasaran; petani merasakan keuntungan mengenyangkan perutnya yang lapar. Keuntungan ini karena pada periode ini (1960-1964) dimana terjadi pergeseran taktik dari periode sebelumnya (1957-1960), yang menggunakan perjuangan parlementer; memberi ruang lebih luas bagi aktivis partai PKI di daerah untuk menyesuaikan agenda perjuangan partai dengan situasi yang khas lokal.

Namun, mengapa politik radikalisasi petani di Gunung Kidul itu gagal? Penulis buku ini, yang diangkat dari skripsi sarjananya di Fakultas Sastra Jurusan Sejarah UGM (1995), menjelaskan alasannya. Pertama, karena faktor taktis organisasi. Gerayak kontraproduktif karena rancu dengan Grayak --fenomena dengan modus serupa di daerah yang sama, yang bermotif murni kriminal. Kedua, masih kuatnya hubungan patron-klien antara petani miskin dan tuan tanah (yang menjadi sasaran Gerayak) sehingga tujuan mempertentangkan kedua 'kelas' itu pun menjadi problematis bagi pihak-pihak yang berkaitan.

Ketika aksi-aksi Gerayak berlangsung, saat itu juga sering terjadi penggedoran-penggedoran (grayak) terhadap rumah orang-orang kaya oleh segerombolan orang yang tidak jelas asal usulnya dan tendensi politiknya. Sehingga, membuat tumpang tindih antara aksi Gerayak dengan Grayak, dimana keduanya hampir sama pola gerakannya. Perbedaannya, aspek politis lebih melekat pada Gerayak dengan cara-caranya yang relatif halus, sedangkan aspek kriminal lebih melekat pada Grayak karena tindakan-tindakan kekerasan yang sering dilakukannya dalam setiap aksinya.

Kekaburan itu jelas merugikan PKI dan BTI yang selama itu menggunakan Gerayak sebagai alat dan strategi lokalnya untuk mengatasai masalah pangan anggotanya, serta melatih militansi anggotanya dalam kerja-kerja politiknya. Sebab, tindakan Grayak itu telah mencoreng mukanya dan membuat kesan yang buruk terhadap aktivitas Gerayak.

Selain itu, tindakan kekuasaan politik spontan dan kurang terorganisir membuat gerakannya tidak bisa meluas. Sehingga, gerakan ini mudah diatasi oleh pihak keamanan, termasuk penindakan serta penangkapan para penggerak Gerayak sebagaimana terhadap pelaku Grayak.

Setelah adanya penangkapan terhadap para tokoh Gerayak, PKI dan BTI langsung membubarkan komite aksi ini karena dinilai sudah tidak menguntungkan lagi secara politis. Disamping itu, ada alasan taktis dari partai supaya keterlibatannya dalam komite Gerayak tidak diketahui lebih jauh oleh lawan-lawan politiknya. Karena itulah hubungan Gerayak dengan PKI tidaklah nampak jelas. Sehingga, Gerayak sebagai strategi politik PKI dan BTI di tingkat lokal Gunung Kidul secara umum tidaklah berhasil memperkuat ketegangan kelas di daerah pedesaan, serta tidak mampu menjadi gerakan politik yang terpadu bagi kaum tani.

Padahal, kalau melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat desa sangatlah kondusif, dimana kehidupan para petani sudah melewati ambang batas subsistensi, dan sudah masuk dalam kategori ''kerawanan struktural''. Namun karena kondisi itu tidak mampu digunakan oleh PKI dan BTI dalam memobilisir para petani secara terarah, dan membuat tuntutan-tuntutan yang realistis bagi mereka, maka aksi protes yang dilakukan lewat Gerayak tidaklah bisa memicu radikalisasi massa petani secara lebih besar.

Ketidakmampuan PKI dan BTI dalam memicu radikalisasi massa petani secara luas, dimungkinkan juga kalau kita paralelkan dengan penjelasan ekonomi politik tentang gerakan petani bahwa protes-protes merupakan tindakan kolektif dan tergantung kepada kemampuan kelompok untuk mengorganisir dan membuat tuntutan-tuntutan. Di sini PKI dan BTI tidak mampu memenuhi tuntutan obyektif berupa aksi kolektif secara baik dan koordinatif, hingga gerayak mengalami kegagalan.

Kegagalan Gerayak juga disebabkan oleh faktor struktural antara petani miskin yang kelapan dengan petani kaya yang seringkali memberikan makan kepada mereka, hingga mereka susah dimobilisasi dalam suatu gerakan yang frontal menyerang tuan-tuannya. Disamping itu, secara kultural masih kuat tertanam nilai-nilai pedesaan, membuat para petani menjadi sungkan bertindak 'radikal'.

Dan, Gerayak --kependekan dari Gerakan Rakyat Kelaparan-- sebagai kenyataan sejarah, menjadi pula relevan dibincangkan. Sebab, gerakan ini kemudian melakukan 'gerakan politik' yang di'organisir' PKI, terutama melalui organisasi onderbouw-nya, Barisan Tani Indonesia (BTI), memenuhi tuntutan perut mereka yang kering kerontang.*


Kembali

 
Copyright © 2000