![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
![]() KOTA Semarang hiruk-pikuk pada 20 Agustus-22 Nopember 1914. Ada keramaian. Suatu pekan raya yang megah dan besar-besaran sedang digelar. Namanya Koloniale Tentoonstelling Semarang atau Pameran Kolonial Semarang, suatu pameran dan sekaligus pasar malam yang pertama di Hindia Belanda. Masyarakat sekitar menyebutnya "Sentiling", sebuah kata dari bahasa Belanda tentoonstelling (pameran). Ide pameran muncul dua tahun sebelumnya. Dan Semarang dipilih karena provinsi Jawa Tengah yang beribukota Semarang merupakan daerah kaya hasil perkebunan yang menghasilkan tanaman-tanaman ekspor seperti gula, karet, teh, kopi, tembakau, dan sebagainya. Dan lagi, tempatnya strategis, berada di tengah pulau Jawa. Pameran menjadi ajang promosi hasil perkebunan, industri, dan kerajinan tangan, serta pengenalan teknologi baru seperti listrik dan gas. Pameran Kolonial ini dikelola swasta, meski beberapa pejabat duduk sebagai pengurus. Dibentuk panitia penyelenggara pada 1912 untuk kali pertama dengan nama De Tentoonstelling te Semarang van 1913, yang kemudian diubah menjadi Koloniale Tenttonstelling Semarang. Tujuannya untuk memeringati genap 100 tahun pulihnya kembali kemerdekaan Negeri Belanda tahun 1913. Namun karena perlu persiapan matang, diputuskan bahwa pameran itu ditunda hingga 13 Agustus 1914. Bertepatan dengan genap 100 tahun usia Tractaat London, saat Belanda memperoleh kembali wilayah jajahannya di Asia Tenggara, yakni Hindia Belanda dari tangan Inggris. Panitia dibentuk dsengan pelindung Gubernur Jenderal. A.W.F. Idenburg dan Direktur Departemen Pertanian, Kerajinan dan Perdagangan, Dr. H.J. Lovink, sebagai ketua kehormatan. Sebagai ketua panitia pengurus harian yang berkedudukan di Semarang dipilih H.C.A.G. de Vogel, residern Semarang. Tapi karena Vogel berangkat ke Eropa, ia diganti oleh residen baru P.K.W. Kern. Dan ramailah Kota Semarang oleh pekan raya ini.* |
| Copyright © 2000 |