Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
INTERPRETASI

Dr Anhar Gonggong
Hari Kartini Bisa Diganti Hari Perempuan

HARI Kartini yang dirayakan tiap 21 April bisa digantikan dengan Hari Perempuan, ungkap Anhar Gonggong. Akan tetapi, hal itu bukanlah dimaksudkan sebagai upaya merusak "potret" Kartini yang memang sudah ada.

Seperti diketahui, Perserikatan Bangsa Bangsa telah menetapkan 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Ide ini sesungguhnya berawal dari kisah-kisah tentang perempuan biasa sejak masa Yunani Kuno dengan Lysistara yang menyudahi perang dengan melakukan serangan seksual terhadap laki-laki hingga ke Revolusi Prancis dengan yel-yel liberte, fraternite, egalite atau kemerdekaan, persaudaraan, kesetaraanHari tersebut, yang diterapkan sebagai hari libur di beberapa negara, dicetuskan pada tanggal sama menyusul demonstrasi menuntut "roti dan perdamaian" para perempuan Rusia pada 1917 menyikapi perang yang membunuh dua juta serdadu Rusia itu. Meski tak disepakati oleh para pemimpin politik itu, unjuk rasa itu menjadi monumen jatuhnya Tsar dari tampuk tahtanya. Pemerintah yang menggantikan posisi itu memberikan hak pilih kepada perempuan.

Anhar yang juga pakar sejarah ini mengatakan, di samping Kartini, bangsa Indonesia memiliki cukup banyak perempuan-perempuan sebagai figur perjuangan perempuan itu sendiri. Tokoh-tokoh semacam Dewi Sartika yang memperjuangkan emansipasi asal Jawa Barat, Tjut Nya' Dien yang selama hidupnya menderita karena berjuang melawan penjajah Belanda dan masih banyak lagi yang lain, menurutnya, adalah contoh-contoh perjuangan yang sampai kini belum terangkat ke permukaan. "Kalu mau diukur fisik, mati betul itu Tjut Nya' Dien," tegasnya.

Ditambahkan olehnya, Kartini mungkin bisa diterima oleh masyarakat di Pulau Jawa dengan segala kultur yang ada. Namun, tidak demikian halnya di tempat lain, seperti di luar Pulau Jawa. "Belum tentu di tempat lain itu, Kartini diterima," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa masalah ini bisa diartikan pula sebagai bentuk pemaksaan harus menghargai Kartini. Biasanya, cara itu justru akan membuat penghormatan seseorang atas figur dimaksud menjadi iklas, katanya mengingatkan.

Anhar mengisahkan, belajar dari pengalaman di masa rezim lalu, almarhum Prof. Dr. Harsja Bachtiar sempat menerima kecaman pedas tatkala menyampaikan gagasan soal Kartini yang sebetulnya juga memiliki kekurangan sebagai manusia. "Itu pengalaman dulu," katanya.

Lebih jauh lagi, tambah Anhar yang sepakat dengan pandangan Ny. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, dalam jumpa pers (19/4)menjelang Hari Kartini di Wisma Negara soal kemanusiaan Kartini yang juga pernah mengalami kegagalan itu memaparkan, sumbangan Kartini adalah pada pemikiran-pemikiran lewat surat-surat pribadinya kepada Nona EH Zeehandelaar, Dr N Adriani, Ny Ovink-Soer dan Ny RM Abendanon-Mandri yang diterbitkan dalam buku Door Duisternis Tot Lichtatau Habis Gelap Terbitlah Terang. Kumpulan tulisan menyangkut kondisi perempuan bumiputera kala itu diakui menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Namun begitu, Kartini memang bukanlah figur yang melulu cemerlang dalam hidupnya. Catatan yang disampaikan Anhar menyorot pula posisi Kartini sebagai bukan istri pertama dari Bupati Rembang kala itu. "Jadi, memang saya sepakat dengan ungkapa Ny Sinta Nuriyah itu agar tidak menjadikan Kartini sebagai dewi yang sempurna," katanya lagi.

Bertolak dari situlah, Anhar menilai bahwa pandangan Ny Sinta Nuriyah kemudian harus disikapi jauh dari sekadar emosi belaka. Penilaian tersebut hendaknya dibaca sebagi pendewasaan kesejarahan bangsa Indonesia. "Artinya, adalah hak orang jika memang dia ingin memuja Kartini," tuturnya.

Demikian pula, pendapat tersebut selayaknya dimengerti pula sebagai bentuk koreksi kesadaran kesejarahan kita bagi masa depan. "Jika kita menjadi lebih dewasa, sesungguhnya kita boleh membuat potret-potret perjuangan perempuan lain tanpa harus merusak potret Kartini itu sendiri," pesannya.

Sumber: kompas.com, Sabtu, 21 April 2001


Kembali

 
Copyright © 2000