Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

MESIASS
  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
BIOGRAFI

John Gotti
The Last Don

NEW York, 16 Desember 1985, hari masih terang.

Di jalan yang didinginkan salju, sebuah limosin hitam berhenti, kurang lebih 100 meter dari Spark Steak House, di kawasan Manhattan. Hanya tiga penumpang mobil itu, dua di kursi depan, memandang ke arah kanan. Satu lagi, pria berkaca mata, tampan, mengisap cerutu, menurunkan kaca mobilnya seperempat, menyandar dengan tenang. Tak ada percakapan. Jarum salju yang menimpa kaca mobil pun terasa lebih keras dari napas mereka. Tegang.

Tiga puluh menit kemudian, serombongan orang, berbaju hitam-hitam, keluar dari sebuah rumah makan. Tapi jalan santai itu hanya sesaat, serentetan tembakan menerpa mereka, selebihnya adalah jerit, lalu diam. Salju telah dicemari darah.

Limosin tadi bergerak, menyusuri gelimpangan mayat itu. Lelaki di bagian belakang bahkan melemparkan cerutunya ke salah satu mayat. Bibirnya mengembangkan senyum. "Kerja yang sempurna," desisnya.

Dunia kemudian gempar. Paul Castellano, bos mafia keluarga Gambino tewas. Pembunuhnya, masih tanda tanya. Tapi, di kalangan mafia New York, hanya satu nama yang mungkin dihubungkan dengan kematian itu, John Gotti, lelaki yang memandang kematian itu dengan senyuman.

Saat itu, di kalangan mafia, dua nama itu memang tengah bersaing. Castellano, sang bos, lebih banyak pengikut dari kalangan tua, dan mengogahi perdagangan obat bius. Beda dari Gotti, idola kaum muda, dan menghalalkan segala cara.

"Pada 1985 itu terjadi pertikaian serius antara faksi Gotti dan sang bos. Castellano tak ingin ia tersangkutkan kasus perdagangan heroin. Bagi Gotti, itu tantangan," jelas J. Bruce Mouw, pensiunan agen FBI pada cnn.com.

Gotti pun bergerak. Menurut aturan mafia kala itu, Gotti harus mendapatkan persetujuan dari para pemimpin lainnya di New York, yang secara kolektif dikenal sebagai "komisi". Tapi Gotti berbeda, ia menabrak aturan itu. Cukup mengontak dua keluarga lain, ia pun merancang pembantaian itu.

Kekuasaan pun kemudian berpindah ke tangannya. Sejak 1986, seluruh pemimpin keluarga mafia mencium tangannya.

Dikhianati sahabat

Di dunia hitam, Gotti bukanlah mafia biasa. Ia ikon paling gerlap, yang hanya dapat dikalahkan oleh Al Capone, legenda tahun 1920-an. Yang lebih hebat dari itu, Gotti adalah don (bos besar) terakhir mafia. Sosoknya tak ubah Don Clericuzio dalam novel The Last Don karya Mario Puzo.

Gotti bukanlah anak keluarga mafia. Ia lahir 27 Oktober 1940 di Bronx, New York. Ayahnya, Joseph, pekerja sanitasi. Karena miskin, mereka pindah ke Brooklyn, yang mengubah hidup Gotti.

Hanya tahan sampai kelas delapan, ia turun ke jalan, dan merangkai kejahatan. "Ia adalah anak yang tak memiliki apa pun dalam hidup ini menyangkut uang dan kesempatan. Tapi kemudian, ia menciptakan kesempatan," kenang pengacara Gotti, Bruce Cutler.

Di usia 14 tahun, ia gagal mencuri pengaduk semen, yang ketika berputar menghantam kakinya. Tapi keberaniannya banyak dipuji anak jalanan lain. Ia kemudian menjadi pesuruh bos mafia lokal di Brooklyn, dan menjadi langganan polisi. Di usia 21 tahun, 21 juga ia ke luar masuk penjara!

Kejahatannya bercahaya ketika di tahun 1966 ia pindah ke Ozone Park di Queens, New York. Bersama sahabatnya, Salvatore Gravano, ia mengabdi di keluarga Gambino, yang dipimpin godfather Carlo Gambino. Ia beroleh kepercayaan, setelah lolos dari ujian "kecil", membajak pengangkut barang di John F Kennedy International Airport.

Tahun 1973, ia kian mendapat tempat, setelah berhasil membalaskan dendam keluarga Gambino. Ia membantai James McBratney, anggota geng Amerika-Irlandia, yang dicurigai membunuh kemenakanlelaki Gambino. Ia dihukum 2 tahun penjara, dan saat ke luar, Carlo telah digantikan Castellano.

Setelah pembunuhan itu, gelar Teflon Don mampir di pundaknya, pengakuan bahwa tangan polisi tak bisa menjamahnya. Ia bahkan acap tersenyum ketika berjumpa dengan perwira FBI. Ia juga digelari Daffer Don karena penampilannya yang necis. Kemeja US$2000, dasi US$400, berambut perak, bersantai di Ravenite Social Club di Mulberry Street, Little Italy, membuat majalah Time menjadikannya cover.

"Gotti pembunuh berdarah dingin. Ia bertanggung jawab atas banyak kematian. Ia bos yang ganas," kata Mouw.

Tapi di mata anak perempuannya, novelis Victoria Gotti, ayahnya adalah commanding figure. "Kami harus selalu menjaga kedekatan antarkeluarga. Ayah ingin kami memelihara nilai-nilai dan moral yang ia inginkan di sepanjang hidup kami."

Victoria pedih, karena banyak teman lelaki yang mengolok ayahnya. Tapi, ia bangga saat tahu, "semua teman wanita yang bersama saya di sekolah ternyata sangat mencintai ayah."

Tetangganya juga menganggap kehadiran Gotti sebagai berkah. "Dia hal baik untuk 101st Aveneu. Tak ada keributan lagi di sini. Jika bukan karena dia, banyak anak tetangga di sini yang kecanduan obat," aku seorang perempuan pada Time, 1986.

Tapi, seorang tetangga, lenyap tanpa bekas, setelah menabrak Frank, anak kesayangan Gotti. Lenyap tanpa bekas.

Ya, cara kerja Gotti dan pribadinya memang tak tersambungkan. "Ia begitu mencintai gaya hidup. Ia berubah setiap malam, bergerak dari satu gaya, apa pun yang membuatnya tampak flamboyan, flashy. Ia benar-benar menyangka di puncak," cemooh Raab, penulis di The New York Times.

Tapi, soal aura, Jerry Capeci dari John Jay College of Criminal Justice, New York, yang telah menulis beberapa buku tentang mafia, punya kesaksian. "Ia memang dihormati, tak terbantahkan. tapi, ia lebih mencintai dirinya lebih daripada media kepadanya. Ia selalu pamer kapan pun bisa, dengan sepenggal senyum di bibirnya. Senyum entah untuk apa."

"Ia selalu menyuruh FBI mengambil gambar semua anggota gengster di rumahnya. Menjelaskan semua bisnis dan membukanya untuk akses FBI. Tapi hukum tak dapat menyentuhnya," tambah Capeci.

"Hampir mustahil m,enyeret Gotti atas empat pembunuhan, konspirasi, menghambar peradilan, perjudian dan pengelakan pajak," kata John Maloney, Jaksa yang mengambil perkara Gotti, 1990, "Tapi FBI akhirnya punya jalan."

Ya, dengan "gaya bandit" karena tak ada bukti, FBI membujuk sahabat kentalnya, Gravano, yang menjadi penerjemah semua perintahnya. Gravano bersedia dengan ganjaran perlindungan saksi selama 15 tahun, pergantian identitas, dan kecucupan hidup.

Gotti pun didakwa atas 10 kasus pembunuhan, pemerasan, dan penyuapan hakim. Di persidangan, ia mengaku lupa --New York Times memasang judul I Forgotti. Namun, ketika dicap berbohong, ia marah. "Saya tak pernah berbohong. Setiap orang berbohong karena takut pada sesuatu. Saya tak pernah takut pada apa pun!" tantangnya.

Namun, hukuman tetap jatuh, 100 tahun penjara!

Di penjara, ia menjadikan anaknya, John Jr sebagai tangan kanan. Saat John tertangkap, ia alihkan kepemimpinan pada anak kesayangannya, Peter. Awal Juni lalu, Peter pun tertangkap. Gotti masuk rumah sakit.

Dalam kamera sadapan FBI, ucapan Gotti pernah terekam, "Kematian mungkin datang satu jam lagi, malam ini, atau 100 tahun lagi. Tapi saya akan tetap menjadi Costra Nostra," katanya.

Dan kematian memang menjemputnya, 10 Juni lalu, karena kanker. Bukan kematian yang indah bagi seorang mafia. Tapi, sebelum mati, Victora sempat membebaskan Peter, dan Gotti membabtisnya, sebagai penerus usaha keluarga. Gotti, memang tak ingin mati sia-sia.(Aulia A Muhammad)*



Kembali

 
Copyright © 2000