Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
BIOGRAFI

Raden Ajeng Kartini
Cinta dalam Sepotong Sejarah

SUATU sore, sehabis pulang sekolah, Kartini menghampiri ayahnya. Wajahnya tegang, dan ayahnya, RM Adipati Ario Sosrodiningrat, tahu Kartini punya masalah.

"Jadi apakah aku kelak, Ayahanda?" tanyanya.

Adipati Aryo tak menjawab. Tertawa, dan menjawil pipi Kartini.

Kartini yang tak menemu jawab, terus merengek-rengek meminta, tapi Aryo tak juga menjawab. Dia tahu, apa pun jawaban yang dia berikan, Kartini akan menanyakannya lagi.

Seorang abang Kartini yang lewat, dan mendengar pertanyaan itu, menjawab. "Jadi apa gadis-gadis kelak? Ya, seorang Raden Ayu, tentu."

Kartini bersorak, hatinya senang mendapat jawaban itu. Menjadi Raden Ayu, menjadi Raden Ayu, kata-kata itu mematri di benak Kartini.

Setelah itu dia terus memikirkan dua kata itu, dia pandang lingkungannya, dan terantuklah mata batinnya pada kenyataan, betapa banyak Raden Ayu di sekelilingnya. Dan diam-diam, Kartini mempelajari, apa Raden Ayu itu sesungguhnya. Dan kelak dia tahu, Raden Ayu adalah status yang tak layak dibanggakan, sehingga dia pun tak mau memakai gelar itu.

Anak Seorang Selir

Kartini lahir 21 April 1879 atau 28 Rabiulakhir 1808 di Desa Mayong, Jepara. Tak jelas siapa yang memberikan nama itu padanya. Tapi Pramudya dalam Panggil Aku Kartini Saja lebih yakin, karena perempuan, ibunyalah yang memberikan nama.

Waktu itu ayah Kartini masih menjabat Asisten Wedana onderdistrik Mayong, Kabupaten Jepara, dan memiliki rumah yang luas. Tapi Kartini justru tidak lahir di rumah yang luas ini. Sebagai anak dari "selir", Kartini lahir di rumah kecil, berada di bagian belakang rumah Asisten Wedana itu.

Sejarah juga tak mencatat masa kecil Kartini. Tapi yang agak bisa dipastikan, dia besar di bawah pengasuhan ibunya, di rumah kecil itu. Kartini sendiri melukiskan masa kecilnya itu dengan nada pedih. Suratnya kepada Ny HG de Booij-Boissevain menunjukkan diskriminasi yang dia dapat ketika bayi. Ibunya harus bersaing dengan istri utama ayahnya, yang memang masih keturunan Ratu Madura. Sejak bayi dia sudah merasakan kehidupan yang beda antara gedung utama dan rumah kecilnya.

Sahabat Kartini Ny van Zeggelen dalam romannya Kartini melukiskan, setelah lahir Kartini diasuh emban, Rami. Sedang ibu Kartini, seperti kebanyakan selir lain, pergi dari rumah itu sesudah melahirkan. Ini dibuktikan dengan asumsi, Kartini tak memiliki saudara sekandung. Padahal, setahun setelah kelahirannya, saudara Kartini ada 6 orang, dari ibu-ibu yang berbeda. Tapi dari surat-surat Kartini kepada Stella, dan status ibu utama yang "cukup membencinya", Pramudya percaya selain Rami, Kartini masih tetap diasuh ibunya.

Kartini kemudian sekolah, tak jelas di usia berapa. Yang dapat dicatat dari masa sekolah ini adalah perasaan Kartini yang marah karena diskriminasi guru-gurunya, lewat surat kepada Estelle Zeehandellar,

"Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil sikap menentang kami. Aduhai! Betapa banyaknya dukacita dahulu semasa kanak-kanak di sekolah; para guru dan banyak di antara kawan mengambil sikap permusuhan kepada kami..."

Menyerah Pada Cinta Ayah

Setamat sekolah, Kartini ingin meneruskan ke Semarang, di HBS. Apalagi, abang-abangnya sudah bersekolah di sana. Tapi ayah Kartini tak memberi izin, dan dia tak kuasa melawan ayahnya. Bahkan, ketika gurunya menawarkan sekolah ke Belanda, Kartini nyaris menangis.

"Jangan tanyakan padaku, aku mau atau tidak, jangan. Tanyakanlah boleh atau tidak."

Rintihnya dalam surat kepada Stella. Akhirnya, di usia 12,5 tahun, dia hidup dalam pingitan.

Tahun 1896, saat Kartini berusia 17 tahun, pingitannya dilepas. Dia bersama adiknya, Kardinah, menikmati sekali kebebasan itu. Dan sejak 1900, saat naiknya Ratu Wihelmina, tradisi pingit tak ada lagi.

Sesudah itu Kartini memang menjadi pemberontak. Bahkan, ketika dia akan membaktikan dirinya bagi perjuangan yang progresif, dan sang ayah menentang, Kartini tak mundur. Sampai ayahnya jatuh sakit, barulah Kartini surut, bukan mundur, tapi menunda niatnya.

Kecintaan Kartini pada ayahnya memang luar biasa. Bahkan demi cintanya itu, Kartini rela menanggungkan apa saja,

"Untuknyalah, aku merasa begini celaka, berbulan-bulan lamanya aku menjadi guyah hati, lemah, yang bahkan pengecut, karena aku tidak mampu, tidak sampai hati untuk melukai hatinya..."

Ada aku rasai cintaku yang tiada terbatas kepadanya, dan aku menjadi bangga, menjadi berbahagia karenanya, bisiknya pada Stella.

Tampaknya, di depan sang ayah, Kartini tak memiliki kekuatan untuk melawan, yang selalu dia katakan "demi cintaku pada ayah". Sehingga saat niatnya ke Belanda ditentang sang ayah, dan dia dikawinkan dengan Bupati Rembang, "menjadi istri yang kesekian" dia juga tak kuasa melawan. Kartini tak tahu, ada permainan Belanda dalam perkawinan itu.

Cuma, ketika menyetujui kawin, Kartini tahu, diskriminasi yang dia benci di masa kecilnya, dan ketidakadilan yang didapat ibunya, kini telah menjadi takdirnya. Dan Kartini tak berbahagia. Tak lama sesudah "perkawinan politik" itu, Kartini pun meninggal dunia... (aulia am)


Kembali

 
Copyright © 2000