Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
ARTIKEL

1 - 2 - 3 - 4

Perhatian besar juga diberikan pada kualitas musik dari kata-kata tersebut. Galestin, seorang ahli hukum, mengatakan bahwa kata Insulinde mempunyai nada yang bagus, meski kata Insulinde tak mempunyai arti apa-apa baginya.

Stokvis juga berpendapat bahwa kata Insulinde "enak didengar". Seperti juga Gastelin, dia berpikir bahwa kata itu pastilah mempunyai sejarah yang indah, sebagaimana diekspresikan oleh artinya. "Bila orang membutuhkan sebuah kata baru untuk mengekspresikan sebuah konsep baru, maka sebuah kata akan menyediakannya".

Van der Jagt mengatakan bahwa ia lebih suka pada ekspresi Hindia-Belanda; kata itu sangat jelas dan memiliki sejarahnya sendiri dengan tradisi selama 300 tahun. "Nama ini enak didengar bagaikan senandung musik, tidak saja untuk orang Belanda, tapi juga Hindia. Kata ini membawa masa lalu yang kaya, kemasyuran, sebagai sosok yang penting dan sangat berguna tidak hanya buat Belanda tapi juga bagi semua orang di sini".

"Musik dalam kata Hindia-Belanda, kemungkinan mengacu pada barat," kata Soetan Toemenggoeng, seorang pegawai administrasi lokal. "Saya juga berkata bahwa kata tersebut berbunyi musik oriental." Van der Jagt merespon, "Musik oriental? Saya tidak berada pada penekanan seperti itu. Kita tidak mempunyai konsepsi yang sama tentang musik oriental."

Soetan Toemenggoeng yang adu pendapat dalam beberapa hal dengan Van der Jagt merupakan pejuang yang mempertahankan amandemen Labberton-Cramer-Vreede. Seperti Labberton, dia menggunakan kata Indonesia secara sistematik, yang kadang secara spesifik dalam bahasa Melayu disebut dengan "Indonesia atau Noesa Hindia". Dia selalu berpidato dalam bahasa Melayu, dan terkadang diinterupsi oleh Van der Jagt, juga dengan bahasa Melayu.

Di samping penandatanganan amandemen, orator lainnya yang turut serta dalam mendukung kata Indonesia adalah Abdoel Moeis, yang seperti Soetan Toemenggoeng merupakan sorang pribumi dari Sumatra Barat. Abdoel Moeis, salah seorang anggota perwakilan dari Sarekat Islam dalam Volksraad, dengan argumentatif siap menentang sebutan atas Hindia-Belanda yang dipakai Agoes Salim yang juga mewakili Sarekat Islam dalam komisi Carpentier-Alting. Baginya Hindia-Belanda menjelaskan sebuah hubungan dari Belanda atas Hindia yang didasari atas kepemilikan dan dominasi. Tipe hubungan yang sama juga diekspresikan oleh kata "daerah jajahan" yang digunakan bagi Hindia.

Muurling, juru bicara pemerintah yang selalu berhadapan dengan komisi Carpentier-Alting, memberikan respon atas pendapat Moeis secara berkelakar: Orang harus mengerti Hindia-Belanda, agar mengerti Bandoengsche Hoogschool (Bandung College), Solosche Prins (Keraton Solo), atau Spaansche Amerika (Spanyol Amerika). Muurling menggunakan kata Indonesier lebih pada pengertian umum atas penggunaan kata Inlander (pribumi) dan meski beberapa orang Belanda mendukung sebutan "daerah jajahan". Ia membuat kata tersebut jelas.

Dalam perdebatan dia bersikap low profile guna menonjolkan perbedaan opini dan pada saat yang bersamaan, untuk mengisolasi Labberton, yang ia katakan, "Labberton menginginkan sebuah perubahan kasar, sementara pemerintah lebih suka setahap dei setahap; sebuah evolusi".

Labberton turun ke gelanggang untuk mempertahankan amandemennya dengan pernyataan penjelas bahwa dia siap bersedia menarik amandemen. Dia berbicara kembali setelah Soetan Toemenggoeng, dan mempertukarkan beberapa ucapannya dengan bahasa Melayu. Dia menggunakan bahasa Belanda tapi juga kosakata Melayu dan diekspresikan dalam kata-kata yang kemudian ia terjemahkan. Pada tahap ini dia menampilkan draft counter-project atas draft Belanda dan Melayu. Dia berkata bahwa ia menyiapkan itu semua dengan bantuan aktivis nasionalis dan menampilkan surat wasiat politis. Artikel 1 adalah sebagai berikut:

"Indonesia bersama-sama dengan Belanda, Suriname, dan Curacao membentuk sebuah federasi, kerajaan Belanda menjadi basis yang melengkapi persamaan dan otonomi dari berbagai komponen".

Selanjutnya permintaan untuk persamaan diekspresikan dalam artikel 1 yang memperhitungkan penggunaan kata Indonesia atau Noesa Hindia. Dia juga meminta hak untuk menentukan pemerintahan sendiri yang diterjemahkan dalam bahasa Melayu "hak kemerdekaan" dan dia juga mencoba untuk mempertegas dengan menambahkan kata yang dipakai dalam bahasa India; Swaraj.

***
Dua orang pimpinan Boedi Oetomo, Radjiman dan Koesoemo Oetoyo, anggota dari Volksraad, merupakan salah seorang anggota dari Komisi Carpentier-Alting mempunyai suara untuk menggunakan kata Indonesia. Tapi selama perdebatan dalam Volksraad, Koesoemo Oetoyo tidak hadir dan Radjiman memainkan peranan kecil. Sementara Agoes Salim memilih suara untuk Insulinde bagi Komisi Carpentier-Alting, Abdoel Moeis sendiri mendukung Indonesia dalam Volksraad. Ketika bagian dari amandemen Labberton-Cramer-Vreede berkesesuaian dengan artikel 1 dan hendak diadakan pemilihan suara, tak seorang pun anggota Boedi Oetomo atau Sarekat Islam hadir.

Segera setelah Abdoel Moeis kembali dan ambil bagian dalam pemilihan suara atas butir lain dalam amandemen yang sama atau yang lainnya, dia tetap memilih sama dengan Labberton. Diantara penandatangan amandemen kita temukan orang yang bernama Charles Cramer, kelahiran Jawa yang bekerja sebagai insinyur publik, ia merupakan Presiden ISDV, sebuah komponen dari Partai Sosial Demokrat Belanda. Atas nama Komisi Carpentier-Alting, ia memilih Insulinde. Sementara Koch, salah seorang anggota partai sosial demokrat Belanda lainnya memilih Indonesie. Sebagaimana dibuktikan dalam amandemennya, Cramer lalu merencanakan ke arah sebutan Indonesia. Dia berselisih dengan komponen yang keras kepala tentang Indonesia, yaitu Stokvis, anggota lain dari Partai Sosial Demokrat yang posisinya dibela oleh Albarda dalam parlemen.

Volksraad berisi 39 anggota, tapi jumlahnya tak sampai 25 persen pada hari-hari menjelang buan April 1921. Dengan kata lain, kehadiran anggota Volksraad lebih sedikit ketimbang komisi Carpentier-Alting. 23 anggota mengambil bagian dalam pemilihan suara Indonesia. 5 orang lebih menyukai sebutan ini; 3 penandatangan amandemen (berasal dari Belanda) dan dua anggota yang bukan keturunan Belanda: Soetan Toemenggoeng dan Achmad Djajadiningrat. Sementara saudaranya, Hasan, mengajukan kata Insulinde dalam Komisi Carpentier-Alting melawan 18 suara yang menentang. "Apakah ini berarti bahwa kita tetap memelihara Hindia-Belanda?" tanya Labberton ketika dia melihat hasil akhir dari pemungutan suara.
"Mungkin saja," kata sang presiden.

***
Apa saja yang oleh lingkaran...


Kembali

 
Copyright © 2000