![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
Dalam banyak hal, suara-suara yang masuk bukanlah merupakan aliran antara anggota Belanda dan non-Belanda. Indonesia/Indonesier/Inlander bukanlah dikembalikan kepada Belanda. Para anggota komunis dalam parlemen menerima proposal amandemen yang diajukan Labberton dan kelompoknya, yang agak tergesa-gesa mengacu pada anggota Partai Sosial Demokrat. Bagi para sosialis, mereka menarik kembali preposisi dari Komisi Carpentier-Alting. Scheurer, sebagai orang yang tetap bersikukuh "Antirevolusioner", mengembangkan sebuah nama dibalik kata-kata Indonesie dan Indonesia. Kita dapat menyangkal bahwa ia tidak banyak menjelaskan berbagai nama: a plot is all the juicier when the names are known, moreover, it helps historians. Apakah ia (Labberton) ingin berbicara tentang masa "HIndia Poetra"? Kata ini telah menjadi topik penting sejak tahun 1916. Dan di sekitarnya berkumpul para intelektual, yang beberapa diantaranya mulai menggunakan kata Indonesie dalam lingkungan Hindia-Belanda. Kata tersebut dapat secara langsung dihubungkan dengan Suwardi Suryaningrat, yang diusir keu Belanda pada tahun 1913 karena kegiatan antikolonialnya. Pada saat itu (di Belanda) ia bekerja pada buletin bagi Indonesisch Verbond van Studeerenden. Dalam sebuah perdebatan di parlemen, Presiden IVS Cees van Doorn, seorang misionaris dan teologis Prancis, menyumbangkan pendapatnya tentang nama Indonesie, dimana ia menolak pola pendapat etnolinguistik yang digunakan dalam lingkaran akademis untuk menunjukkan bahwa kata ini tidak dapat dijadikan nama bagi Hindia-Belanda. Selanjutnya, ia menyimpulkan "untuk sementara" nama Indonesie tak bisa dimasukkan dalam undang-undang. "Karena kata ini masih belum digunakan secara umum di seluruh negeri. Itu merupakan suatu peristiwa yang total antidemokratik jika itu tidak mengusik pimpinan komunis yang selalu menggunakan sedikit atau banyak metode yang despotik. Rakyat lebih suka Oost-Indie atau Oastenrijk. Adalah lebih baik untuk menghilangkan nama Hindia-Belanda. Tak ada orang yang butuh dinamakan sesudah orang-orang lain. Tapi pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu tidaklah begitu penting. Bukan nama yang diperhitungkan, tapi apa fakta-fakta yang ada dibalik nama tersebut" (Hindia Poetra, Januari 1921). Scheur tak secara gamblang berbicara tentang Cees van Doorn. meski cara pandangnya yang dilindungi oleh Presiden IVS, ditujukan pada pergerakan yang muncul diantara para mahasiswa dari Indonesia. IVS merupakan saksi mata dari krisis fatal di tahun 1922. Jurnal mereka diambil-alih oleh organisasi mahasiswa Indonesia, Indische Vereeniging, yang membaptis dirinya pada tahun yang sama menjadi Indonesische Vereeniging. Dari Indonesisch Verbond von Studeerenden yang kemudian menjadi kata Indonesisch merupakan sebuah indikasi dari wilayah budaya menuju sebuah bangsa. Penggunaan kata Indonesia bagi partai-partai antikolonial hanyalah sebuah pertanyaan yang berbulan-bulan. Indonesia kemudian menjadi sebuah nama yang tersebar luas dan menjadi populer. Sebuah perkataan Labberton yang pernah dihadiahi pandangan mencemooh dari para pendengar. *** Tulisan ini merupakan makalah yang dibawakan dalam seminar "The Socio-Economic Foundations of the Late Colonial State ini Indonesia, 1880-1930: Toward an Explanation, Netherlands Institute for Advanced Studies, Wassennaar, 12-14 Juni 1989, dengan judul asli Alternatives Name for "Nederlandsch-Indie", 1919-1921 or "Een Goed Merk voor een Sigaar". Alih bahasa oleh Wilson. | |||||||
| Copyright © 2000 |