![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
waktuku di dalam bui ku bersedih dan bernyanyi di malam sunyi ibu dan ayah menanti berdoa setiap hari aku kembali Krompyang! Piring seng berisi nasi campur jagung dengan lauk kangkung rebus plus dua potong ikan teri digeletakkan begitu saja. Cangkir seng berisi air menemani. Tony, Yok, dan Nomo melihat. Yon yang kali pertama mengambil dan memakannya. “Enak kok.” Yang lainnya kemudian mengikuti, kecuali Yok. “Lebih baik dimakanlah daripada kita kelaparan terus sakit.” Yok pun akhirnya memakannya. Personel Koes Bersaudara dimasukkan ke ruang isolasi berukuran 2x2, dibatasi ruang di depannya yang juga berukuran 2x2. Di dalamnya tersedia kakus yang dibatasi dinding papan setinggi pinggang. Ruang menghadap udara terbuka. Pagi hari, hanya pintu sel di dalam yang dibuka, sehingga mereka tetap berada di dalam sel. Malam hari pintu digembok. Beberapa hari kemudian mereka dipindahkan ke sel yang lebih besar. Nomo, Tonny, Yon, dan Yok membentuk barisan, kemudian berjalan maju menuju salah satu sel tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Glodok. Mereka melewati pintu masuk blok. “Brang bang bang bang ....“ “Tahanan baru!” “Tahanan baru!” “Masuk, masuk ... Temanku itu! Minggir, minggir, minggir….” Lelaki ini adalah Bambang Sembuto, teman Yok, yang ditahan karena mencuri diesel di Senayan. Keempatnya masuk ke sel nomor 15. Sel yang berkapasitas enam orang itu diisi tujuh orang. Selain personel Koes Bersaudara, ada tiga narapidana lainnya: Saleh, koruptor, serta Atun dan Rachim, keduanya pembunuh. Atun dipenjara karena menyuruh Rachim membunuh orang. Ketiganya, kata Yok, narapidana baik-baik yang sengaja dipilihkan untuk mendampingi Koes Bersaudara. Mulailah mereka melakukan aktivitas rutin yang menjemukan. Tidur, makan, dan sesekali berolahraga jika di luar sel. Pagi mereka dikeluarkan sebentar untuk menikmati matahari, makan, berolahraga, atau duduk-duduk sambil mengobrol. Di luar ruang tahanan terdapat beberapa kamar mandi dan WC. Setelah lama di sel, mereka kenal dengan Tan Sio Gie atau Hartanto, yang kemudian menjadi bapak angkat mereka di penjara. Tan Sio Gie yang ditahan karena membunuh seorang polisi, sering membagikan makanan dan rokok yang dikirim istrinya. Lelaki asal Semarang ini rajin menanam sawi di atas tanah kecil di belakang tahanan. Sawi itu subur. Pupuknya adalah kotoran manusia. “Kami sudah pernah makan tahinya. Edan, dia menanam sawi, dan tahinya buat pupuk. Asem tenan,” kata Nomo sambil tertawa terbahak. “Tapi dia baik banget,” kata Yok. Setiap hari Miyiek mengantarkan masakan kering dan buah-buahan. Tapi ia tak boleh menemui, dan makanan diantarkan penjaga. Acap kali ia diantar Meis, Cori Louise (pacar Yok), atau Sulis, teman sekolah Yok. Lazimnya kehidupan penjara, jalur belakang juga acap dipakai. Banyak penggemar dan teman Koes Bersaudara yang mengirimi makanan lewat para penjaga; dari makanan kaleng hingga biskuit. Meis kadang harus bersembunyi di dalam drum dekat tempat penjagaan untuk menunggu pergantian jaga untuk bisa masuk ke dalam. Djon sesekali membezuk, tapi hanya ditemui Tonny. “Ton, jangan khawatir. Nanti kamu keluar dari sini boom dah. Tuhan memberi rahmat tapi terselubung lewat penahanan.” Waktu bertemu terjadi 17 Agustus 1965, karena tahanan bebas keluar. Miyiek yang diantar personel Dara Puspita berpelukan dengan Yok dan menangis. Tak lama, karena mereka segera dimasukkan lagi ke sel. “Di penjara tengar-tengur (tidak ada kerjaan). Cuma terakhir aku ketemu temanku, Johny Klasem, yang habis nggarong di Cibinong, tangisan sama saya,” kata Yok. “Ketemu Johny ketika mau pertandingan 17 Agustus.“ “Eh, volly kita menang atau tidak, Yok?” tanya Nomo. “Menang. Kita menangan. Lawan Cipinang, menang.” “Tujuhbelas kan ada lomba, lawannya Cipinang, Salemba, Bogor.” Pada peringatan 17 Agustus 1965 pula nama Koes Bersaudara disebut-sebut dalam pidato Bung Karno di depan Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia. “Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia, kenapa mesti elvis-elvisan?” “Dengan Bung Karno ngomong begitu dan kita ditahan itu kan berarti kita dianggap menentang dia. Tapi kita ini mengemban misi,” ujar Yok lirih tanpa menjelaskan misi yang ia maksud. NOMO sibuk dengan urusannya menjawab telepon. Nomo amat dikenal di daerah Pecenongan. Sejak sekolah menengah atas ia terbiasa nongkrong di sana, yang membuatnya lihai jual-beli kendaraan bermotor. “Sekarang saya tak mengurusi itu lagi. Biarlah anak-anak,” ujar Nomo menunjuk teman-temannya yang ia anggap sebagai anak angkat. Dua mobil berjajar dengan tempelan kertas bertuliskan sold terparkir membelakangi teras rumah. Tak lama kemudian telepon di dalam rumah berdering. Meis mengangkatnya, kemudian keluar mengabarkan peledakan bom di Gudang Peluru. “Sing ngebom kudune dipithes (yang mengebom seharusnya dibunuh),” kata Nomo. “Kasihan kan rakyat kecil, pada takut kayak zaman PKI.” “Aku ingat Hengky, anaknya Jenderal Slamet. Waktu ada kabar bahwa komunis di Indonesia harus dibasmi seakar-akarnya, saya ngobrol di depan rumah dan bilang nggak setuju kalau PKI dibasmi seakar-akarnya. Wong yang lain kan tak tahu apa-apa. Pak Slamet yang lagi baca koran, pakai kaos oblong tentara sehabis pulang kantor, dengar. ‘Kamu ini bagaimana. Kalau mereka berhasil kalian ini sudah almarhum. Saya punya datanya’. Jadi kita dianggap antikomunis. Wis diperkirakan bakal mati, disembelih, ngrusuhi.” Jakarta bergejolak. Malam itu, 29 Spetember 1965, beberapa panser lalu-lalang. Personel Koes Bersaudara takjub melihat kesibukan itu dalam perjalanan pulang ke rumah. Koes Bersaudara dibebaskan dari penjara dengan syarat harus melapor ke kejaksaan setiap Senin. “Masih dalam pengawasan dan bimbingan Kejaksaan Tinggi Jakarta,” tulis Jaksa Tinggi Dan Sulaiman dalam surat pembebasannya. Peralatan musik milik mereka tetap ditahan sebagai barang bukti. Keluarga Koeswojo gembira atas kepulangan mereka. Setelah melepas kangen Yok, Yon, dan Nomo langsung tidur. Tony keluar rumah, meluapkan kegembiraan dengan berkeliling kota dengan mobil Opel milik Handijanto. Ia heran melihat jalanan yang lengang. Pagi harinya, Yok,Yon, dan Nomo juga berkeliling kota melihat situasi kota, dan hanya menghasilkan tanya, “Kok sepi. Ada apa, ya?” Sesampainya di rumah, begitu radio diputar, RRI Jakarta menyiarkan gerakan militer yang dilancarkan satuan-satuan Cakrabirawa yang dipimpin Letnan Kolonel Untung terhadap beberapa jenderal yang membentuk Dewan Jenderal dan merencanakan kudeta. “Wah, ada pemberontakan nih. Revolusi nih.” Peristiwa yang menorehkan luka dalam sejarah Indonesia sedang berlangsung. Angkatan darat dibawah komando Mayor Jenderal Soeharto bergerak cepat, mengambil-alih situasi. Kemudian diikuti pelarangan dan penumpasan PKI beserta organisasi-organisasinya. Korban pun berjatuhan. Yon terpaksa menghentikan kuliah arsitekturnya di Universitas Republica (kini Trisakti). Ia ingat bagaimana screening diterapkan di kampus-kampus. “Yang bau-bau PKI saja, ayahnya PKI, tidak boleh kuliah. Bau-bau PKI sedikit, out; bau-bau organisasi yang kiri-kiri, out. Banyak mahasiswa hilang,” ujarnya. “Selama beberapa saat juga tak ada pertunjukan band.“ Pengawasan pemerintah terhadap pertunjukan band diterapkan di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Panitia penyelenggara pertunjukan dan para pemain band bila mengadakan pertunjukan harus minta izin kepada pihak kejaksaan. Bila ada pertunjukan band yang tak memiliki izin dari kejaksaan, kepolisian berhak membubarkan pertunjukan tersebut. Koes Bersaudara tetap menjalani wajib lapor. Peralatan musik masih disita. Selama beberapa bulan tak ada aktivitas pentas. Jakarta dipenuhi aksi mahasiswa dan pelajar. Ketika keadaan mulai mereda, Koes Bersaudara pun mulai mendapat panggilan pentas. Koes Bersaudara tampil dengan peralatan musik yang masih disita kejaksaan, yang setelah pertunjukan harus dikembalikan lagi. Dalam setiap pentasnya penonton selalu meminta lagu The Beatles, tapi mereka menolak. Selepas pentas, mereka juga harus menyerahkan laporan tertulis untuk kejaksaan. Semuanya sesuai dengan surat keputusan Kejaksaan Tinggi Jakarta tertanggal 10 Januari 1966. Koes Bersaudara tampil sebagai lambang kebebasan atas penindasan penguasa lama dan kesewenang-wenangan politik. Sejumlah organisasi, kesatuan militer, dan kesatuan aksi mahasiswa mengundang Koes Bersaudara untuk tampil di pentas-pentas pertunjukan. Jadwal pertunjukan makin padat. Bahkan Agustus 1966, Koes Bersaudara melakukan pertunjukan keliling Jawa dan Bali. Dari uang hasil pertunjukan itu pula Koes Bersaudara bisa pindah rumah ke Jalan Sungai Pawan 21 Blok C, Kebayoran, seluas 500 meter persegi. Tak lama kemudian, 1967, Koes Bersaudara mengeluarkan dua buah piringan hitam, Jadikan Aku Dombamu dan To Tell So Called the Gulties, yang berisi 24 lagu. “Nah ini ditulis, orde baru itu mengadakan artis safari. Rencana semula itu wadah untuk artis seluruh Indonesia. Ternyata digerombolin ke Golkar saja. Ngertos mboten. Ini yang tidak cocok. Wong nasional kok digerombolin-gerombolinora sudi ya,” ujar Yok, masih mencampurkan logat Banyumasannya. “Makanya kita cuma sekali saja. Dan ini boleh diingat, kedua, Mas Tony sudah tidak ada, tapi saya masih mau, tahun 1992 atau berapa. Karena saya pikir saat itu satu-satunya yang bisa menyelamatkan supaya tidak kocar-kacir seperti ini masih Golkar. Tapi nyatanya sudah tidak bisa direm. “ Yok membanting bungkus rokok ke atas meja. “Kebablasan semua. Nyimpang semua”. “Tahun 1971, saya ngurusi pemilu, sekber Golkar ke Golkar, ngirim-ngirim artis-artis. Semuanya ikut, tapi yang aktif sehari-hari saya. Bukan anggota Golkar loh ya, untuk menentramkan bangsa ini. Dulu kalau bukan Golkar yang menang rusak eh bangsa ini. 1973 nganter misi kesenian ke Malaysia. Kemudian saya meninggalkan Golkar, bikin Yukawi,” kata Nomo. “Wis ditulis sing apik, sing enak, ben sing moco seneng. Dasare wong iku seneng diapusi,” kata Yok. (“Sudah, ditulis yang bagus, yang enak, agar yang baca senang. Dasarnya orang itu senang dibohongi”). “Ada yang tak senang diapusi; diapusi pejabat. Kalau diapusi seniman itu senang. Contohnya apa, coba?” timpal Nomo. ”Menonton film.” “Bukan, seniman musik kok. Orang Indonesia dibohongi sama Mas Yok. Menggendong anak bayinya dan meminumkan segelas susu saja tak bisa, kok Mas Yok bilang kolam susu. Bukan lautan hanya kolam susu .… Benar nggak?” Nomo tertawa, bercanda, tapi Yok menanggapinya dengan serius. “Itu bukan ngapusi, Mas. Itu kan mengingatkan.” “Kan nggak mungkin kolam itu kolam susu.” “Pengertiannya itu bahwa negara kita kaya raya. Itu filosofi. Mau menuruti, ya syukur, ora, yo wis. Sekarang tongkatnya nggak ditanam-tanam, tapi buat rebutan.” “Ngelingke (mengingatkan),” Nomo mengalah. Yok kemudian pergi, entah ke mana. “Sekarang memang susah. Elit-elit itu ribut melulu sementara rakyat pada bingung. Nah, Anda tahu satria piningit? Itu bohong. Rakyat pada bingung. Itu tekadnya bangsa Indonesia. Itu ‘Satriaku’.” Nomo kemudian menyuruh anaknya, Reza, memutarkan kaset berisi dua lagu ciptaannya: “Satriaku” dan “Kopra Berdikari.” Keduanya merupakan akronim dari Satu Tekad Rakyat Indonesia Akur Kembali Utuh dan Koperasi Rakyat Mandiri. Saya diminta masuk ke ruangan untuk mendengarkannya. Di mana, oh di mana Oh di mana Benar, benar yang benar Yang mana “Nanti ada koor sebagai backing vocal menyanyikan lagu “Tanah Airku,” kata Nomo. Lagu kedua mengalun. Kopra berdikari Solusi bangsa ini Kopra berdikari Koperasi rakyat berdikari “Sekarang kalau aku berkarya itu berkarya untuk bangsa dan negara. Nggak aku jual, nggak aku apa-apakan,” ujarnya. “Saya keluarkan nanti, wong bangsa ini masih sembrawut. Mau dikeluarkan malah tak berpengaruh,” ujar lelaki yang berencana mendirikan perkumpulan tani Pancasila ini. BURUNG-BURUNG berkicauan, sembari melompat-lompat di pepohonan yang memenuhi halaman rumah di Jalan Haji Nawi ini. Kicauan burung seakan menggantikan suara musik berdentam-dentam, yang menunjukkan kehadiran Koes Plus, grup musik yang disegani di zamannya. Koes Plus muncul pada 1969 karena kehadiran Murry, pemain drum grup Patas, yang menggantikan posisi Nomo. Nomo keluar dari Koes Bersaudara karena lebih memilih bekerja untuk membiayai hidupnya setelah menikah. Toh, Nomo tak bisa lepas dari musik. Ia lalu mendirikan studio rekaman Yukawi dan Lieman, mendirikan No Koes dan Nobo, serta bersolo karier. Atas pemakaian nama itu, orang digiring untuk berkomentar: No Koes itu sama dengan Anti-Koes Plus. Nobo? No terhadap Bimbo! Ia sempat bergabung lagi dengan saudara-saudaranya dengan nama Koes Bersaudara dan menghasilkan album Kembali. Pada 1984, Nomo membubarkan studio rekaman miliknya. Koes Plus perlahan menjadi band populer. Kasetnya meledak. Lagu-lagunya populer, dinyanyikan semua umur. Kepopuleran mereka diikuti job sebagai bintang iklan minuman ringan F&N dan mobil Kijang, main film, dan pemasangan gambar mereka pada sampul buku-buku tulis. Pembuatan perusahaan film digagas, tapi batal karena kekurangan modal. Sejak Tonny Koeswojo meninggal dunia pada 1987, Koes Plus seperti kehilangan motor penggerak. Koes Plus juga mengalami bongkar pasang pemain. Setelah Abadi Soesman, anak ketiga Tony, Damon Wicaksi Wangsa Koeswoyo, sempat masuk menggantikan posisi Soesman. Yon satu-satunya anggota keluarga Koeswojo yang tetap bertahan. Kini, bersama Murry, Andolin, dan Jack Kasbi, ia berusaha mempertahankan eksistensi Koes Plus. Anak lelaki Koeswojo yang paling pendiam ini kini tinggal di rumahnya yang luas di Pamulang, Jakarta. Rumahnya di Jalan Haji Nawi ditempati Miyiek. Selain pentas dan membuat lagu, Yon yang masih memelihara rambut gondrongnya meluangkan waktu untuk hobi yang sudah ia tekuni dua tahun: melukis. Di sebuah bangsal yang ia jadikan ruang tamu, berderet lukisan-lukisannya. “Wah, dulu Koes Plus itu rajanya band di Indonesia. Betul-betul meledak ke mana-mana. Saya nggak aman, keluar ke mana-mana dirubung (dikerumuni). Saya kira nggak ada artis Indonesia kayak Koes Plus. Sekarang artis jalan-jalan, aman. Akhirnya, saya jarang keluar karena tahu bakal dirubung,” kenang Yon. “Kalau saya manggung, honor Koes Plus Rp 3 juta. Harga Corona yang baru itu paling Rp 3,6 juta. Sekarang kalau dikurs sama saja sekali manggung Rp 150 juta. Mana ada sih artis sekarang yang honornya segitu? Kalau di daerah, minimal Rp 1 juta. Harga Honda CB itu paling Rp 240 ribu. Jadi dibayar 4 kali Honda. Ini harga mobilnya yang gila apa? Ha ... ha ... ha. Bingung saya. Sampai saya bisa beli rumah, mobil. Sekarang kecil, nggak karu-karuan.” Sepanjang sejarahnya, Koes Plus (dan Koes Bersaudara) telah melahirkan sekitar 450-an lagu, yang sebagian besar menjadi hit di zamannya. Beberapa lagu di antaranya diciptakan ayah mereka, R. Koeswojo, yang meninggal pada 2000. Sekurangnya Koeswojo menciptakan sekitar 20 lagu, yang beberapa di antaranya cukup populer, yakni “Muda Mudi”, “Oh Kasihku”, “Layang Layang”, “Jangan Bimbang Ragu”, “Nasib Penyanyi Butuh Uang”, dan “Kasih Sayang”. Koes Plus melegenda. Penghargaan BASF Legend Awards pada 1992 membaptiskannya. | |||||||
| Copyright © 2000 |