![]() |
| perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa |
|
From Ngesti with Love MENGUNJUNGI Semarang tanpa menonton Ngesti Pandowo sungguh suatu kerugian, begitu kata orang-orang Semarang tempo doeloe pada sanak keluarganya di luar kota. Anjuran itu memang benar, terutama jika percaya bahwa Ngesti Pandowo merupakan salah satu trade mark Semarang selain Gereja Bleduk dan Lawang Sewu. Ketenaran dan kehebatannya bisa disejajarkan dengan keberadaan Wahyu Budoyo di Madiun, Sriwedari di Solo, Bharata di Jakarta maupun perkumpulan wayang besar di pusat-pusat kebudayaan. Namanya juga menarik perhatian turis manca. Beberapa orang bule acap tampak di antara penonton. Ngesti bahkan pernah dipilih sebagai lokasi syuting sebuh film produksi patungan produser Indonesia dan luar negeri; "Harga Sebuah Kejujuran" yang dibintangi aktor keras Christ Mitchum dan Cindy Rothrock. Bagi penggemar Ngesti, tak jarang ada yang hingga kedanan melihat penampilan Bambang Sudinar, Ndari maupun Mrno Sabdo yang memegang rol Kresna, Arjuna dan Gareng. Nama-nama itu melekat erat, sebagaimana nama para pendirinya; Darso Sabdho, Narto Sabdho, Sastro Sabdho, Marno Sabdho, dan Kusni yang sudah meninggal dunia. Bagi orang Semarang, Ngesti adalah legenda dan menjadi bagian identitas kota yang sudah menyatu dengan nafas kehidupan sehari-hari. Ngesti Pandowo bukanlah kelompok wayang orang pertama di Semarang. Sebelumnya, telah berdiri perkumpulan Sri Wanito yang dipimpin dua bersaudara Yuk Hwa dan Kong Hwa tahun 1935, berbasis di kampung Bugangan. Ada juga kelompok wayang orang keliling di Tulungagung yang berdiri 1 Juni 1937, dan hijrah ke Semarang tahun 1952. Kemudian perkumpulan Wahyu Budoyo yang didirikan Sri Ani Sukarti, 3 Oktober 1970. Perkumpulan ini bermain di kompleks THR Tegal Wareng, dan pernah pula hijrah ke THD Jurnatan. Zaman berganti, dan hanya Ngesti Pandowo tetap bertahan, meski didera kesulitan-kesulitan. Sesudah Kusni, salah seorang pendiri yang cukup mumpuni ketokohannya, wafat tahun 1980, lima tahun kemudian Ki Nartosabdho pun meninggal dunia. Ngesti kehilangan tokoh-tokoh panutan. Bersamaan dengan itu, Ngesti mengalami kesulitan kronis soal manajemen dan kreativitas, hingga pernah terlontar untuk menjual peralatan dan inventarisnya. Jumlah penonton juga makin surut hingga menyisakan 5 orang per malam. Beruntung pemerintah daerah Kodia Semarang tanggap yang kemudian memberi subsidi dan membentuk yayasan pengelolaan yang diketuai Mashoeri. Dari lingkungan Ngesti munculllah ide pertunjukan ketoprak sebagai selingan pentas wayang orang pada hari-hari tertentu, yang dimotori generasi muda Ngesti Pandowo dibawah koordinasi Cacuk Sastrosudirdjo, cucu salah seorang pendirinya. Pentas ketoprak acap kali diramaikan oleh bintang tamu terkenal dengan menyuguhkan lakon-lakon kreasi yang segar. Hasilnya cukup bagus, penonton berdatangan kembali. Namun itu tak berlangsung lama. Gedung GRIS termasuk gedung pertunjukan wayang orang yang dipakai sejak tahun 1952 atas izin Walikota Semarang waktu itu, Hadisubeno Sasrowerdojo, diambil alih pihak ketiga. Ngesti Pandowo harus pindah. Berita itu cukup mengagetkan bukan hanya "anak-anak wayang", tapi juga seluruh warga Semarang. Meski kabar itu kemudian mengendap lama, toh itu hanyalah soal waktu. Ngesti Pandowo kemudian hanya menyisakan kenangan.(kelana/djm) | |||||||
| Copyright © 2000 |