Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Free Web site hosting - Freeservers.com
  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
HISTORIOGRAFI

Pergolakan dalam Sejarah Sastra Indonesia,
Dari Soempah Pemoeda Hingga Hadiah Magsasay




Judul: Sumber Terpilih, Sejarah Sastra Indonesia Abad XX
Penyusun: E. Ulrich Kratz
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation, Jakarta, Januari 2000
Tebal: 1017 halaman


INILAH ketelatenan Ulrich Kratz. Ia mengumpulkan esai-esai sastra yang tersebar dan nyaris hilang selama ini. Kerja keras dan ketekunannya berbuah sebuah buku setebal bantal yang kaya dan menjadi dokumen penting dalam sejarah sastra Indonesia.

Pengajar sastra Indonesia dan Melayu di School of Oriental and African Studies (SOAS), Universitas London, Inggris ini adalah sarjana yang menekuni kesusastraan Indonesia. Kartz tampak memahami betul arti penting naskah-naskah asli sastra yag diperlukan sebagai referensi. Penerbitan Sumber Terpilih, Sejarah Sastra Indonesia Abad XX merupakan bukti nyata dari minat dan ketelatenannya menekuni sejarah sastra Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Dalam pengantarnya, Kratz menyebut tujuan penerbitan buku ini, yakni "untuk memudahkan para pembaca menemukan karangan dan pandangan sastra yang baru dan lain". Dan, "Para pembaca juga diharapkan dapat menikmati secara langsung karangan yang sering disebut-sebut dan dianggap penting dalam sejarah sastra Indonesia, tetapi agak susah dicari di perpustakaan ataupun penerbitan".

Semua karangan dalam buku ini merupakan esai-esai terpilih dan yang terbaik dalam diskusi panjang kesusastraan Indonesia. Sejak Soempah Pemoeda diikrarkan hingga kontroversi seputar Hadiah Magsasay. Kartz memilih esai yang layak muat berdasarkan "soal perumusan dan sifat-sifat sastra Indonesia".

Karya Kartz ini merupakan dokumen berharga apabila hendak meninjau pergolakan gagasan dalam sastra Indonesia. Karena perdebatan yang ahistoris dan merujuk pada sumber kedua atau ketiga, terkadang mengalami penyimpangan. Kartz mencontohkan misalnya bagaimana istilah "Angkatan 45" pertama dimunculkan Rosihan Anwar lebih bermakna politik dan sosial ketimbang pengelompokan sejumlah sastrawan dan gagasan sastra. Namun, belakangan perdebatan yang melelahkan tentang angkatan justru banyak terjadi pada makna angkatan sebagai suatu kelompok sastrawan dan gagasan sastra tertentu.

Dokumen ini memang tidak mendetil benar, namun pokok-pokok gagasan yang pernah terlontar sepanjang seabad itu sudah cukup terwakili. Dokumennya meliputi gagasan yang dilontar suatu kelompok atau individu tentang kesusatraan Indonesia, baik kredo, paparan, atau analisa yang termuat dalam majalah, koran, bahkan ceramah. Buku ini kemudian jadi bernilai karena menyodorkan ke tengah publik berbagai naskah rujukan yang biasanya sering disebut-sebut tapi tak pernah dibaca umum atau bahkan bisa hilang bila tidak segera didokumentasikan seperti ini.*


Kembali

 
Copyright © 2000