Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

Free Web site hosting - Freeservers.com
  perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

 rubrik
  home
garis
  artikel
garis
  biografi
garis
  historiografi
garis
  gallery
garis
  historia
garis
  link
garis
  about us
garis
  kontak
garis
  buku tamu
 
 
 
ARTIKEL

Wiji Thukul dan Orang Hilang

OLEH LINDA CHRISTANTY


15.34, Selasa, 23 Juni 1998

MARCEL tidak kembali juga. Dia seperti serpihan dari pesawat luar angkasa yang meledak di ruang hampa, lepas dari jangkauan grafitasi bumi. Hilang. Begitu pula, Sadeli. Kata H, menurut Mulya Loebis, Sadeli mungkin sudah dieksekusi. Jati dan Reza sudah kembali. Nezar, Aan, dan Mugi bebas bersyarat. Kata beberapa kawan, Marcel disembunyikan para pastor di Filipina. Tapi, aku tidak percaya. Menurut kawan-kawan, dia hilang di Tangerang (setelah bertemu A). Aku pernah sekali melihat ibunya muncul di televisi. Sepasang mata perempuan itu redup berair. Bagaimana ia bisa memahat sepasang mata yang selalu bersinar dan terus-terang pada wajah putranya? N sempat bercerita tentang 103 mayat korban penembakan serta penganiayaan yang mengambang di Kali Bekasi, beberapa waktu setelah kasus penembakan 12 mahasiswa Trisakti. Berita ini ditayangkan Horison. Apakah mereka berdua ada di antara mayat-mayat itu?


Marcel adalah nama lain untuk Bimo Petrus Anugerah, sedang Sadeli adalah nama alias untuk Herman Hendrawan. Keduanya tercatat sebagai aktivis Partai Rakyat Demokratik yang hilang di masa pemerintah Soeharto. Catatan harian ini ditulis sebulan setelah Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden dan meninggalkan sejarah kekerasan yang panjang selama periode kekuasaannya. Setelah evakuasi berkali-kali dalam keadaan yang tak menentu, juga membakar berkas-berkas maupun dokumen demi menjaga kerahasiaan gerakan waktu itu, ganjil rasanya menemukan catatan semacam ini di tumpukan buku di masa tenang.

Ada sebelas kawan saya yang diculik militer di masa Soeharto. Empat orang tidak kembali dan seorang ditemukan sudah menjadi mayat di jalanan. Tapi, anehnya, catatan itu menunjukkan bahwa saya maupun kawan lain tak pernah membicarakan Wiji Thukul sebagai orang keempat. Kami tak menganggapnya sebagai kawan yang mengalami penghilangan paksa, tak pernah menaruh curiga ia turut menjadi korban. Saya—dan mungkin banyak teman—mengira ia tengah bersembunyi di Solo atau berada di suatu tempat, tapi situasi politik waktu itu membuat kawan yang melindunginya merahasiakan keberadaannya dari yang lain. Ini juga hal biasa dalam partai. Tak semua hal perlu diketahui semua orang agar usia perjuangan bisa panjang. Ternyata prasangka serupa terjadi pada istri Thukul, Sipon. Saya mendengar Mbak Pon menyangka ada kawan yang menyembunyikan suaminya dari kejaran militer. Namun, setelah sekian lama Thukul tak ada, masing-masing pihak mulai saling bertanya. Ternyata Thukul memang tak disembunyikan pihak mana pun, Sipon ataupun orang-orang PRD. Sejak itu pencarian Thukul mulai dilakukan. Keluarga dan kawan-kawan Thukul mendatangi lembaga bantuan hukum, mulai percaya bahwa Thukul memang termasuk orang-orang yang hilang di masa Soeharto. Pencarian ini terkesan sangat terlambat. Thukul bahkan tak termasuk dalam daftar orang hilang yang poster-posternya disebarkan Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan, yang suatu kali pernah terpampang di berbagai tembok kota dan rumah-rumah.

Siapakah Wiji Thukul ini? Mengapa ia hilang? Siapa yang menghilangkannya?

Saya mendengar nama Thukul pertama kali pada 1994. Ketika itu pembentukan Persatuan Rakyat Demokratik baru saja selesai dan Wiji Thukul terpilih menjadi ketua divisi budaya organisasi ini. Ada teman yang menyarankan saya untuk bertemu Thukul. “Mungkin, kalian bisa melakukan sesuatu lewat seni dan budaya,” katanya. Ia juga menunjukkan sejumlah sajak Thukul yang saya pikir menyalahi unsur-unsur estetika yang saya pelajari di fakultas sastra. Sajak-sajak itu tidak puitis dan pasti terkesan vulgar bagi banyak mahasiswa di fakultas saya di masa Orde Baru. Bagi mereka, sulit membayangkan keindahan dalam keadaan yang kumuh dan miskin seperti kehidupan buruh, tukang becak, atau masyarakat urban. Tak bakal ada keindahan dalam got yang bau dan keringat yang mengucur deras, yang bisa memicu kelahiran karya sastra. Kemiskinan dan penderitaan hanya melahirkan lembaran pamflet, bukan sajak atau puisi. Saya juga pernah punya anggapan semacam itu, bahwa keindahan sejati hanya terkandung dalam kisah-kisah cinta yang wangi. Keindahan tak bisa beriringan dengan protes yang mengandung kemarahan, tuntutan, dan kekecewaan, seperti apa yang disebut Thukul puisi.

Teori-teori kesusastraan yang saya pelajari tak berpihak pada sajak Thukul. Samuel Tylor Coloridge (1772-1834), sastrawan di masa romantik telah menyebut sajak sejenis karangan yang berlawanan dengan karya sains, bersifat memberi kesenangan langsung. Riffaterre, misalnya, mendefinisikan sajak sebagai ‘mengatakan sesuatu tapi artinya lain’. Sajak pun disebut memiliki ciri-ciri tertentu, antara lain berbentuk monolog aku-lirik dan bermakna konotatif. Sajak harus mengandung metafora, simile, atau alegori. Pendeknya, untuk memahami sebuah sajak, tidak gampang. Teori-teori tersebut tak cocok untuk sajak-sajak Thukul. Sajak-sajaknya bernada lugas dan mudah dipahami, tak bermain kiasan atau perbandingan yang rumit.

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan/di sana bersemayam kemerdekaan/apabila engkau memaksa diam/aku siapkan untukmu: pemberontakan!

Dalam bait Sajak Suara-nya yang terkenal itu Thukul menyuarakan rasa ketertindasan rakyat kecil di masa Soeharto, yang dirinya pun menjadi bagian dari mereka. Seni bagi Thukul adalah seni yang terlibat, menyatu dalam dinamika masyarakatnya, bukan hasil imajinasi belaka.

Pada tahun itu juga saya berangkat ke Solo dan menemui Thukul di Kampung Kalangan bersama Raharja Waluya Jati, kawan aktivis di Yogyakarta. Kami memasuki pemukiman kumuh di tengah kota, yang dihuni para buruh pabrik, tukang becak, kuli rendahan, dan orang-orang yang paling tak diperhitungkan pendapatnya dalam sebuah pemerintahan otoriter. Di tengah kampung inilah sajak-sajak Thukul lahir. Thukul tak hanya menyuarakan kesengsaraan mereka, tapi juga membangkitkan semangat untuk melawan ketidakadilan itu. Sajak-sajaknya bukan semata-mata hardikan pada kekuasaan, tapi juga jalan keluar bagi orang yang ditindas, jalan yang tak disukai penguasa.

Kami melihat anak-anak kecil bertelanjang kaki berlarian di bawah terik matahari, menghirup hawa busuk yang menguap dari pembuangan limbah industri. Kami berhenti di muka sebuah rumah sewaan dan seorang pria kurus berkaos oblong putih merek Swan menyambut di ambang pintu. Betapa ringkihnya orang ini, pikir saya, tak sepadan dengan keberanian sajak-sajaknya. Bicaranya pelat dan derai tawa terdengar di ujung kalimat-kalimatnya. Thukul tinggal dengan seorang istri dan dua anak yang masih balita, Nganti Wani dan Fajar Merah. Dia menyuguhkan singkong rebus pada tamunya.

Kehidupannya miskin. Rumah itu berlantai tanah. Di ruang muka membentang sehelai plastik biru bahan tenda pedagang kaki lima yang berfungsi sebagai alas duduk. Sebuah mesin jahit berada di tengah ruangan tersebut, alat pencari nafkah si penghuni rumah. Kamar mandi berbau tak sedap terletak di luar, tanpa kran air ledeng.

Tapi, Thukul punya sebuah ruang istimewa; perpustakaan. Ini satu-satunya kemewahan. Di sana ada buku Antonio Gramsci, Bertolt Brecht, Raymond Williams, Marx, …. Kebanyakan buku berbahasa Inggris. Beberapa anak kampung tengah bertandang ke rumah Thukul ketika kami datang. Mereka belajar menggambar dengan teknik cukil kayu. Saya masih ingat salah seorang yang ramah dan suka bertanya. Namanya, Trontong. Nganti Wani kelihatan paling kecil, menyela di antara mereka.

Anak-anak tersebut tergabung dalam Sanggar Suka Banjir. Mereka belajar menggambar, mengarang, membaca, dan bermain teater di situ. Thukul mengajarkan apa yang tak mereka peroleh di sekolah, yaitu mengekspresikan dengan jujur perasaan serta pengalaman sehari-hari mereka. Semua karya bertumpu pada hal-hal nyata. Bahkan, suatu hari sanggar ini mementaskan lakon tentang banjir dan di akhir pertunjukannya pemain serta penonton beramai-ramai mengunjungi rumah lurah untuk mengadukan tanggul yang jebol. Melalui permainan, Thukul telah menanamkan rasa percaya diri pada anak-anak kampung agar tak gentar menyatakan kebenaran. Dalam keterbatasan selalu ada jalan. Kelompok teater dari luar Indonesia juga pernah berkunjung ke Sanggar Suka Banjir dan membagi pengetahuan baru untuk anak-anak tersebut. Kampung Kalangan yang sempit seakan berubah luas, memberi anak-anak miskin itu kegembiraan.

Thukul juga melatih buruh-buruh pabrik bermain teater. Konsep sebuah teater buruh di Afrika Selatan mengilhaminya. Buruh-buruh memerankan pengusaha, satpam, mandor, supervisor, dan diri mereka sendiri. Buruh yang memerankan majikan berdebat dengan buruh yang memerankan dirinya. Mereka belajar bernegosisasi lewat teater. Selama ini para buruh merasa tak punya kemampuan menjelaskan tuntutan mereka di hadapan pengusaha atau pihak departemen tenaga kerja yang mereka sebut ‘orang-orang pintar’ itu. Kalimat-kalimat mereka selalu dipatahkan dengan kelihaian pengusaha berargumentasi. Tuntutan-tuntutan kesejahteraan mereka tak dipenuhi. Thukul melatih buruh-buruh berbicara, membangkitkan rasa percaya diri mereka untuk berhadapan langsung dengan pemilik modal yang menentukan upah mereka dalam kehidupan nyata. Latihan ini semacam simulasi. Meski pengusaha punya pembela hukum, buruh-buruh tak perlu gentar. Dengan bersatu, kekuatan mereka akan lebih besar dan didengar. Thukul melakukan pengorganisasian buruh dengan cara ini untuk PRD.

Pada Agustus 1994, setelah beberapa kali bertemu, kami sepakat membangun Jaringan Kerja Kesenian Rakyat dan sepakat berpihak pada rakyat tertindas dalam karya-karya kami. Bentuk jaringan dipilih berdasarkan kondisi dunia kesenian saat itu, yang para pekerjanya jauh dari pengalaman berorganisasi dan sukar berdisiplin, menganggap organisasi identik dengan penyeragaman yang bisa mematikan kebebasan berkreasi mereka. Orang tak punya referensi tentang organisasi kesenian yang modern, selain paguyuban. Setidaknya, bentuk jaringan ini tak membuat mereka merasa dikekang.

Pengetahuan berorganisasi memang telah dihancurkan sejak peristiwa 1965. Pemerintah Soeharto membubarkan puluhan partai maupun organ sektoralnya menjadi tiga partai yang telah mereka tentukan, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia, dan Golongan Karya. Orde Baru tak memberi kebebasan pada rakyat untuk mendirikan organisasi dan berbeda pendapat. Rakyat yang terorganisasi bisa mempunyai kekuatan untuk mengancam kekuasaan, punya posisi tawar yang besar. Negara menciptakan organisasi untuk mengontrol rakyat, menciptakan ketakutan bahwa dengan tak masuk partai Golongan Karya atau Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, misalnya, nasib seseorang bisa buruk. Zaman itu tak banyak seniman yang berani berseberangan dengan pemerintah Orde Baru. Wiji Thukul tergolong mereka yang langka itu.

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendakiadanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!


Thukul menggunakan kiasan ‘tembok’ untuk penguasa, dan ‘bunga’ untuk rakyat yang dirampas tanah dan rumahnya. Sikapnya terhadap tirani jelas tergambar dalam sajak: harus tumbang!

Thukul sudah dianggap menentang pemerintah jauh sebelum ia terlibat dalam partai. Baginya perlawanan terhadap ketidakadilan adalah naluri. Pada 1989, Badan Koordinasi Intelijen Negara, menelepon Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta lantaran lembaga ini dianggap merekomendasikan aktivitas berkesenian Thukul. “Kata BAKIN, Wiji Thukul itu ‘kan orang yang mau mendongkel negara kita,” ujar Jaap Erkelens dari Koninklijk Instituut Voor Taal, Land en Volkenkunde, yang juga teman baik Thukul, mengulang cerita orang lembaga tersebut.

“Thukul juga sudah langganan ditangkap dan disiksa Koramil setempat,” kata Erkelens. Bahkan, pada masa itu, Thukul sempat ditahan Koramil di Solo gara-gara menerima paket buku dari Belanda. Pihak kantor pos yang bekerja sama dengan militer telah melaporkan soal kiriman tersebut.

“Sajak-sajak Thukul itu berisi protes sosial, yang dalam hal ini terbentur pada politisi,” kata Erkelens, lagi.

Di dalam negeri Thukul dimusuhi, tapi sajak-sajak tersebut membuat Thukul memperoleh penghargaan Wertheim Encourage Award yang pertama pada 1991 bersama penyair WS Rendra. Penghargaan ini dibuat sebagai penghormatan pada sosiolog Belanda Willem Frederik Wertheim, yang anti-kolonialisme dan tak suka pada prilaku pemerintah Soeharto. Ketika InterGovernmental Group on Indonesia (sekarang Consultative Group on Indonesia), sebuah lembaga donor yang diprakarsai pemerintah Belanda berdiri pada 1967, Wertheim menulis artikel berjudul “Tuan Sudah Kembali”, memperingatkan orang akan bentuk kolonialisme baru yang lebih maju dan tersembunyi.

Untuk mempopulerkan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat, masih pada 1994, organisasi ini mendukung pameran pelukis Moelyono di Yogyakarta. Pameran Moelyono bertema kehidupan nelayan. Kartu-kartu pos yang dilukis anak-anak nelayan turut dipamerkan. Kartu-kartu tersebut menunjukkan sikap aparat atau rentenir yang terjadi di sekeliling mereka, juga intimidasi dan ketidakadilan yang berlangsung sehari-hari. Bila Thukul hidup dengan anak-anak kaum miskin di perkotaan, Moelyono dekat dengan anak-anak nelayan di wilayah pantai Tulung Agung, Jawa Timur.

Pada tahun ini juga, aksi petani terjadi di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.

Dalam aksi-aksi massa semacam inilah, sajak-sajak Thukul sering dibacakan. Aksi yang terkadang memakan waktu berjam-jam dan tak jarang di tengah terik matahari membuat pembacaan sajak menjadi hiburan, selain memberi semangat dan ketidakgentaran menghadapi militer yang selalu menghadang tiap aksi protes.

Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi Mencari Tanah Lapang yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru).

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!


1994 merupakan tahun yang ramai bagi situasi nasional. Tiga media massa, Tempo, Detik, dan Editor dibredel. Aksi protes berlangsung di Jakarta dan berbagai kota. Para jurnalis turun ke jalan bersama mahasiswa dan organisasi pro demokrasi seperti Pijar, SMID, Formaci, Aldera, dan sebagainya. Akhirnya, tak semua rencana bisa berjalan mulus untuk kesenian dan Jaringan. Seiring situasi politik Indonesia yang makin represif di masa Soeharto, PRD berkonsentrasi pada pengorganisasian kaum buruh dan mendukung perjuangan rakyat Timor Timur untuk merebut kemerdekaannya. Pada Mei 1995, Pusat Perjuangan Buruh Indonesia, onderbouw partai, melakukan aksi mogok bersama sekitar 5000 buruh PT Great River di gedung DPR RI, Jakarta, disusul aksi lompat pagar kedutaan beberapa negara tetangga bersama para aktivis Timor Timur yang anti integrasi. Pada tahun yang sama Thukul memimpin pemogokan buruh-buruh PT Sritex di Sukoharjo, Surakarta. Dalam aksi buruh Sritex ini Thukul nyaris buta akibat kekerasan aparat.

Banyak seniman di masa Orde Baru tak setuju pada sikap Thukul ini. Mereka menganggap seni tak bisa dicampuradukkan dengan politik. Seni untuk seni dan politik hanya mengotori kesuciannya. Tapi, di seluruh dunia selalu ada masa saat orang terpaksa berhadapan dengan sistem yang menindas dan seniman ikut terpanggil menentangnya. Jose Rizal, pahlawan rakyat Filipina, yang dieksekusi penjajah Spanyol, juga seorang sastrawan besar. Nikolai Vaptsarov, pemimpin rakyat Bulgaria menentang fasisme, juga penyair yang sangat terkenal di negerinya. Fransisco Borja da Costa, penyair Timor Lorosae, yang mati ditembak tentara Indonesia, sajak-sajaknya telah menjadi lagu rakyat Timor Timur.

Di masa Soeharto, orang tak bisa sendirian menentang kesewenang-wenangan itu dan mereka merasa perlu bersatu dalam perjuangan yang terorganisasi. Thukul memilih bergabung dalam PRD.

Pada Juni 1996 Pusat Perjuangan Buruh Indonesia dan PRD memimpin aksi mogok buruh di dua kawasan industri di Surabaya. Tiga aktivis PRD, Dita Indah Sari, Coen Husain Pontoh, dan Soleh, ditangkap dan dipenjarakan.

Percepatan politik melawan pemerintah Soeharto terjadi pada tahun yang sama. Pemicunya datang dari masalah internal Partai Demokrasi Indonesia. Partai berlambang banteng ini terpecah menjadi dua kubu, pro Soerjadi dan pro Megawati Soekarno. Kelompok pro Soejadi yang didukung pemerintah, militer, dan sejumlah pengusaha menjegal Megawati naik ke kursi ketua dengan melakukan kongres tandingan. Massa pendukung Megawati protes. Mereka membuka panggung demokrasi di kantor dewan pimpinan pusat partai itu, di Jalan Diponegoro 76, Jakarta Pusat. Tokoh-tokoh oposisi ikut berorasi di sana, seperti Gus Dur, Budiman Sudjatmiko, Mochtar Pakpahan, dan Sri Bintang Pamungkas. Pemerintah Orde Baru merasa terganggu. Kehadiran Mega dianggap bisa menjadi simbol perlawanan grass root ini, setidaknya mengingatkan orang pada keberpihakan Soekarno terhadap kaum miskin dulu. Momentum untuk mengakhiri kekuasaan Orde Baru yang korup sebagian bersandar pada massa yang militan tersebut. PRD memutuskan untuk mendukung perjuangan mereka. Tapi, pemerintah melihat hal ini tak menguntungkan. Pemerintah kemudian mengeluarkan teori tentang kuda Troya (Taktik Troya menaklukkan Sparta dengan mengirim kuda kayu raksasa yang ternyata berisi prajurit Troya). PRD dianggap menunggangi massa PDI yang besar itu untuk menghadapi pemerintah Soeharto.

Pada 27 Juli 1996, preman yang didukung aparat menyerbu kantor PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Mereka mengenakan kaos PDI pro Soerjadi. Keterangan resmi Komisi Nasional hak-Hak Asasi Manusia menyebutkan 23 orang hilang, lima meninggal dunia, dan 149 luka-luka akibat serangan itu. Namun, korban yang jatuh lebih banyak.

PRD dituduh sebagai dalang peristiwa 27 Juli. Struktur dan bagan organisasi serta nama sejumlah kawan disiarkan di televisi. Pada 10 Agustus 1996, Budiman Sudjatmiko dan pengurus lain ditangkap dan ditahan. Kepemimpinan partai diambil alih sebuah komite tertutup. Taktik perjuangan berubah menjadi bawah tanah.

Saya kehilangan kontak dengan Wiji Thukul pada masa ini. Ia menghilang, tak berkoordinasi. Saya kira, hal ini wajar terjadi. Ini pengalaman pertama kami menerima serangan cukup besar dari pemerintah. Saya tak yakin kawan-kawan di daerah punya kesiapan lebih baik. Jadi, Thukul memutuskan menyelamatkan diri dulu sambil membangun kontak kembali. Komunikasi organisasi dengan kota-kota lain dilakukan lewat internet. Berita-berita tentang situasi politik Indonesia yang tak dimuat media mainstream disebarkan media alternatif seperti Siar dan Kabar dari Pijar ke publik lewat milis Apakabar, yang dikelola John McDouglas.

Pada awal 1997, kami menemukan kembali puisi-puisi Thukul di internet. Ia tak menyebutkan keberadaannya. Tapi, puisi-puisinya berganti warna, lebih murung dan kontemplatif, meski masih bernada protes sosial. Saya kira, situasi dalam pelarian tidak menyenangkan hatinya. Ia juga terpisah dari gejolak sosial dan politik yang memberinya inspirasi. Belakangan saya baru tahu kalau ia pergi ke Kalimantan dan hampir setengah tahun tinggal di sana.

Pemilihan umum 1997 di ambang pintu. Pemerintah Orde Baru makin memperkuat diri. Partai Persatuan Pembangunan, yang berbasiskan umat Islam, mulai tak sejalan dengan kebijakan pemerintah. Sebelumnya partai ini dikenal konservatif. Massa pendukung Megawati berusaha bangkit pasca 27 Juli, berusaha berkonsolidasi. Kini pemerintah Soeharto menjadi musuh bersama. Elite-elite politik yang semula mendukung Soeharto mulai berbalik arah, melihat desakan rakyat dan mahasiswa yang besar menuntut kemundurannya dari kursi presiden. Harmoko, juru bicaranya yang baik, ikut memancing di air keruh. Ia menghimbau Soeharto mundur di televisi.

Wiji Thukul telah kembali dari Kalimantan dan ia diminta membantu kawan-kawan di Jakarta. Saya kembali bekerja bersama Thukul. Tapi, pada November 1997, Thukul meminta izin untuk pulang ke Solo pada saya. Ia berjanji menghubungi saya lagi seminggu kemudian. Janji tersebut tidak dipenuhinya. Itulah kontak terakhir saya dengan Thukul.

“Terakhir kali saya ketemu dia Desember 1997,” kata Jaap Erkelens. Namun, sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. “Pada Mei 1998, ia benar-benar menghilang,” lanjut Erkelens.

Mei 1998, Soeharto turun. Kerusuhan terjadi di Jakarta. Di tengah aksi massa yang menuntut pemerintahan transisi meledak kerusuhan anti etnis Tionghoa di Jakarta. Banyak toko dibakar dan dijarah. Ratusan perempuan Tionghoa diperkosa. Juni 1998, sebulan setelah Soeharto turun, kerusuhan bertema sejenis telah menjalar ke beberapa daerah. Mochtar Pakpahan dari Serikat Buruh Seluruh Indonesia membuat pernyataan di media massa bahwa Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia berada di balik kerusuhan-kerusuhan itu. Pernyataan ini dibalas Amien Rais dengan tak kalah emosional. Amin menuduh Mochtar itu PKI dan komunis. Akibatnya, di masjid-masjid dipasang pengumuman bahwa gerakan buruh harus diwaspadai, karena komunis berada di belakangnya. Ada juga yang menyebutkan Thukul dihilangkan aparat pada masa ini. Ia dilenyapkan sebagai konsekuensi aktivitas politiknya, yang menjadikan seni sebagai cara.

Pencarian orang-orang hilang terus dilakukan sampai hari ini. Tapi, selama lima tahun berjalan belum ada titik terang. Sejumlah anggota Komando Pasukan Khusus yang tergabung dalam Tim Mawar telah diadili, tapi mereka mengaku semua aktivis yang mereka culik telah dibebaskan dan dalam keadaan hidup. Prabowo Subianto juga menegaskan hal serupa. Wiji Thukul dan orang-orang yang hilang itu seolah terkubur bersama kejatuhan Soeharto.

Bagaimana nasib Mbak Pon, Wani, Fajar, dan anak-anak Sanggar Suka Banjir itu sekarang?

Mbak Pon masih menjahit pesanan dengan mesin jahit tuanya untuk membiayai keluarga. Nganti Wani telah tumbuh jadi gadis remaja yang suka menulis puisi seperti ayahnya. Fajar Merah sudah masuk sekolah. Trontong, sahabat kecil Thukul itu, kini sudah dewasa. “Dia sekarang jadi buruh,” kata Mas Slamet, teman Thukul, yang mengajari anak-anak menggambar. Dan Thukul tak bisa menyaksikan ini.

Jakarta, November 2002


Kembali

 
Copyright © 2000